Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2015

Ikan Asin Mamak Ina



Dulu aku tidak terlalu peduli dengan isu tentang Mamak Ina, tetapi semenjak ia pergi meninggalkan gubuknya menuju rumah kontrakan tepat di depan rumahku, aku mulai terusik. Mungkin dulu aku belum pernah bertatap muka sedekat ini dengannya. Benar kata orang, Mamak Ina sosok yang cukup membuat bulu kuduk anak-anak kecil seumuranku merinding. Tubuhnya yang besar dan kekar, kulitnya yang kecoklatan selalu dilapisi keringat, gigi kekuning-kuning, rambut ikal digerai. Pernah suatu hari aku bertatap muka dengannya, ia tiba-tiba muncul di ambang pintu rumahku.

“Mana Mamakmu?” tanyanya datar.

“Di..di..sumur belakang Mak,” jawabku ketakutan.

“Panggilkan Mamakmu, bilang kalau ikan asin pesanannya datang”.

Tanpa berkata-kata, aku langsung berlari ke belakang memanggil Mamakku. Setiap anak kecil pasti ketakutan bertemu dengannya. Pasalnya, tersebar isu bahwa para anak kecil yang masih bermain ketika maghrib akan diculik olehnya, lalu dikutuk menjadi ikan dan dijadikan ikan asin untuk dijual.  Itu rahasia kelezatan ikan asin Mamak Ina, karena ikannya berasal dari anak-anak kecil yang tidak pulang ke rumah. 

Setiap malam pasti terdengar suara anak kecil menjerit dan menangis dari dalam rumah Mamak Ina. Memang belum pernah satu orang pun dari warga desa ini yang mencari tahu, siapakah yang menjerit di rumahnya? Setahu warga, Mamak Ina tidak mempunyai anak, dia hanya tinggal sebatang kara. Konon, dia sudah hidup puluhan tahun disini semenjak suaminya pergi meninggalkannya ketika ia berumur 35 tahun. Maka dari itu, Mamak Ina tidak sempat mempunyai anak. Dari situlah tersebar isu bahwa suara jeritan dari dalam rumahnya adalah anak kecil yang sedang dikutuk menjadi ikan.

“Kau lihat Topan, tangannya yang besar itu biasanya dibuat untuk mencekik anak yang diculiknya. Rambutnya yang lebat dipakai untuk menyumpal mulut anak tersebut,” ujar Kak Lingga ketika Mamak Ina sedang menyapu halaman rumahnya. Biasanya aku tidak pernah percaya apa yang dikatakannya, karena dia sering berbual, tetapi untuk masalah Mamak Ina aku sedikit percaya dengannya.

“Tetapi kalau mulutnya disumpal pakai rambut, kenapa kita masih mendengar jeritan anak kecil dari rumahnya?” tanyaku semakin penasaran.

“Di rambutnya itu terdapat bius tidur, jadi siapa saja yang disumpal mulutnya dengan rambut Mamak Ina pasti dia akan pingsan. Mengapa masih menjerit? Karena mantra kutukannya lebih kuat dari kekuatan biusnya sehingga kita mendengar suara jeritan yang sangat hebat”.

Aku menggangguk-anggukan kepala. Tak terasa bulu kudukku naik.

“Makanya, sebelum maghrib kau harus pulang, mandi lalu pergi ke surau untuk mengaji,” kata Kak Lingga kembali.

                                                                        ***
Hari ini aku berniat untuk menyelidiki rumah Mamak Ina. Aku ingin membuktikan, benarkah yang dikatakan warga tentangnya. Sebelum maghrib aku pulang, mandi lalu berpakaian rapi seperti hendak pergi ke surau. Aku berbohong kepada Mamak bahwa sepulang dari surau akan menginap di rumah Pandu. Kukayuh sepeda menuju jalan ke surau, seharusnya setelah jalan lurus ini belok ke kanan, tetapi aku memutar arah lewat belakang menuju rumah Mamak Ina. 

Adzan magrib berkumandang, kebetulan aku sudah sampai di halaman belakang rumah Mamak Ina.  Terlihat sepi, hanya suara pohon bambu di belakangku yang meramaikan. Aku bersembunyi diantara pohon-pohon pisang yang tumbuh di halaman belakang. Lalu terdengar suara gemercik air,ternyata Mamak Ina berwudhu di keran belakang rumah. Aku tidak menyangka Mamak Ina yang taat beribadah menggunakan sihir, seharusnya dia tahu bahwa yang dilakukannya adalah dosa.

Langit mulai gelap, tidak ada tanda-tanda Mamak Ina keluar ke halaman belakang. Konon, ia melakukan ritualnya di halaman belakang ketika malam hari. Mungkin karena masih jam 8, warga desa pun masih banyak yang berlalu lalang di sekitarnya. Lama-lama aku tidak betah bersembunyi, apalagi semua tangan dan kakiku habis digigiti oleh nyamuk-nyamuk besar. 

Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri persembunyianku. Aku berniat akan pulang ke rumah, lalu merangkai cerita buatanku, alasan kenapa aku tidak jadi menginap di rumah Pandu. Ketika mengangkat sepedaku, stirnya menyangkut diantara pagar bambu milik Mamak Ina. Aku berusaha menariknya pelan-pelan, tetapi tidak berhasil. Secara paksa kutarik sepeda milikku, tiba-tiba, “Bruuuk!” pagar bambu ambruk. Aku panik. Terdengar derap langkah dari dalam rumah, Mamak Ina!
“Siapa kau?!” teriak Mamak Ina sambil mengacungkan pisau besar miliknya.

Aku ketakutan setengah mati, dengan tubuh yang menggigil kuangkat sepeda tersebut lalu mengkayuhnya dengan cepat. Sebelum pergi aku mendengar Mamak Ina berkata, “Kujadikan ikan asin baru tahu rasa!”. Membuatku semakin percaya isu tentang kutukan tersebut. Ketika Mamak Ina keluar rumahnya, aku melihat seseorang duduk di belakangnya, mukanya tidak terlihat jelas, hanya matanya yang tajam terlihat dari jauh membuatku hampir mati berdiri. Kukayuh sepedaku sekuat tenaga, lalu berjanji tidak akan mendekati rumah itu lagi.

                                                                        ***
Setelah itu aku menceritakan apa yang kualami kepada Kak Lingga.

“Untung saja kau tidak ditangkap olehnya, bisa-bisa kau sudah menjadi ikan asin siap untuk digoreng,” ujar Kak Lingga.

“Tapi kakak jangan bilang-bilang Mamak kalau aku tidak pergi ke surau,” pintaku dengan wajah memelas.

“Asalkan kau mau membelikanku es cendol Mamak Lina”.

Aku mendengus kesal. Selain tukang bual, Kak Lingga juga tukang palak.

                                                                        ***
“Antarkan nasi kebuli ini ke rumah Mamak Ina, sekarang, mumpung masih panas,” perintah Mamak yang membuat jantungku hampir jatuh.

“Kak Lingga sajalah Mak, aku sudah ditunggu Pandu di rumahnya,” ujarku beralasan.

“Kakakmu mengantarkan nasi kebuli juga ke desa sebelah pakai motor, kau tidak bisa mengendarai motor, jadi sebelum ke rumah pandu mampirlah sebentar ke depan rumah”.

Tidak tega menolak kembali perintah Mamak, kuiya-kan saja meski keringat dingin mulai bercucuran mengingat apa yang kualami dua hari yang lalu. Kulambat-lambatkan langkah kakiku. Sampai di depan pintunya, bulu kudukku spontan berdiri, keringat dingin semakin deras mengucur. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengetukkan pintu. Terdengar suara derap langkah berat dari dalam, derap langkah milik Mamak Ina yang khas.

“Kau lagi, mau mengintip rumahku lagi?” ujarnya dengan kedua bola matanya yang hampir keluar.

Aku terkejut, berarti dia tahu bahwa aku pelakunya?

“I..i..ini ada nasi kebuli dari Mamak,” jawabku gemetaran.

“Masuklah ke dalam”.

Sebenarnya aku enggan menanggapi ajakannya, khawatir akan dikutuk olehnya di dalam rumah. Akan tetapi mendengar ajakannya yang tulus dan wajahnya berubah tidak segarang ketika membukakan pintu, akhirnya aku memasuki rumahnya. Mamak Ina menyuruhku duduk di sofa usang yang ada di ruang tamu. Lalu terdengar seperti suara kursi roda berjalan menuju ruang tamu. Muncullah seorang anak kecil di atas kursi roda, tubuhnya dipenuhi oleh balutan perban putih. 

Ternyata dia adalah anaknya Mamak Ina. Aku terkejut bukan main. Namanya Sekar, aku melihat poto yang diberikan oleh Mamak Ina, dia cantik dan beda sekali dengan ibunya. Rupanya dulu sebelum Mamak Ina tinggal di desa ini, ia tinggal di kota. Lalu suatu hari rumahnya mengalami kebakaran disebabkan gas di dapurnya meledak. Suaminya meninggal dan Sekar terkena luka bakar yang parah. Ketika itu Mamak Ina sedang berbelanja ke pasar.

Setelah itu, Mamak Ina dan Sekar pindah ke desa dan tinggal di gubuk, karena tidak mampu menyewa kontrakan yang layak. Semua hartanya habis dilalap oleh api, gubuk itu pun pemberian dari Pak tua yang tinggal di desa ini. Maka dari itu, Mamak Ina berjualan ikan asin untuk membiayai pengobatan anaknya dan makan sehari-hari.Ternyata hasil penjualan ikan asin tidak mencukupi biaya pengobatan, Mamak Ina memutuskan meracik obat-obatan dari tumbuhan. Setiap malam hari dibalurkan ke seluruh tubuh Sekar, ternyata suara jeritan tersebut adalah suaranya. 

Mamak Ina memang merahasiakan keberadaan Sekar, karena Sekar malu dengan keadaannya sekarang. Setiap hari ia menjajakan ikan-ikan asin buatannya dari pintu ke pintu. Sehingga ia dan Sekar bisa pindah ke rumah kontrakan yang layak. Sebenarnya Mamak Ina mengetahui isu negatif tentangnya, tetapi dia biarkan saja, karena dengan itu jarang ada anak kecil yang berkeliaran ketika magrib. Juga menghindari orang-orang dari rumahnya sehingga keberadaan Sekar tidak diketahui oleh orang-orang.

Setelah mendapat cerita panjang dari Mamak Ina, aku berpamitan juga tidak lupa meminta maaf kepadanya atas kejadian dua hari yang lalu.

“Tidak apa-apa Topan. Lain kali main-mainlah kesini, temani Sekar,” ujar Mamak Ina masih dengan ekspresinya yang datar.

Aku tersenyum tanda menyetujui undangannya. Dari peristiwa Mamak Ina, aku mendapat pelajaran bahwa kita tidak bisa menilai orang lain hanya dengan apa yang kita lihat. Mamak Ina yang terlihat menyeramkan, ternyata memiliki hati lembut. Akan tetapi, anggapanku yang tadi tiba-tiba buyar mendengar teriakan milik Mamak Ina.

“Topaan, kau menginjak tanaman depan rumahku, awas, lain kali kau akan kujadikan ikan asin betulan!”

Minggu, 24 November 2013

Karamel Madu


“Lagi-lagi gagal!” seru Billy sambil membuang adonan karamel yang setengah jadi.

“Jangan putus asa Bil, masih ada waktu seminggu lagi,” ujar Shila, temannya.

“Aku sudah bertahun-tahun membuat kue dan semua rakyat desa ini tahu bahwa kue buatanku paling lezat, tetapi untuk membuat adonan karamel saja gagal.”

“Ya sudahlah kamu bikin karamelnya dari gula saja, kan lebih mudah ketimbang dari madu.”

“Justru desa kita terkenal dengan karamel yang terbuat dari madu, karena madu makanan pokok kita.”

Seminggu lagi akan diadakan lomba masak kue antar desa dan Billy merupakan utusan Desa Beruang. Kali ini ia ingin membuat kue jeruk yang dilapisi oleh karamel yang terbuat dari madu. Memang sudah terkenal dengan kelezatan karamel madu, maka dari itu Billy bertekad untuk membuatnya. Billy merupakan beruang pembuat kue terlezat di desanya, tetapi baru kali ini ia membuat karamel dari madu. Jadi ia memang sedikit kesusahan untuk meracik adonannya.

Padahal Shila sudah meminta resep karamel madu dari Nenek Carol, tetapi Billy mengabaikannya, karena menurutnya resep buatannya jauh lebih lezat. Akhirnya dari dua hari yang lalu Billy mengeluh atas kegagalannya, sampai-sampai Shila menyuruhnya untuk membuat karamel dari gula.

“Bisa jatuh nama baikku sebagai pembuat kue yang handal,” cetus Billy.

Begitulah Billy, ia terlalu angkuh sampai-sampai ia tak mau menerima bantuan dari orang lain. Memang sejak dahulu belum ada yang berhasil membuat resep karamel madu selain Nenek Carol. Semua penghuni desa ini memakai resepnya. Hanya Billy satu-satunya beruang yang menolak resep darinya hanya karena takut terkalahkan kelezatan kuenya. Menurutnya, lebih baik ia gagal membuat kue daripada mendapat resep dari orang lain.

Shila sebagai teman baiknya, rela meminjam kembali resep dari Nenek Carol, karena ia tak tega melihat Billy berhari-hari tidak tidur demi memikirkan resep. Akan tetapi keangkuhannya telah merasuki hatinya. 

“Aku salut sama kamu atas usaha keras selama berhari-hari, tetapi kan nggak ada salahnya menerima bantuan dari orang lain. Kamu kan lomba demi mengangkat nama baik desa ini bukan namamu saja, jadi wajar kalau orang lain ingin membantumu,” ujar Shila.

Nihil, Billy tetap bersikeras menolak pertolongan dari yang lain. Akhirnya Shila merasa putus asa meyakinkannya, lalu membiarkannya berjuang sendiri. Billy tidak peduli, yang penting ia bisa menciptakan kue jeruk karamel madu terlezat, pasti namanya akan melambung ke seluruh desa-desa. Banyak yang akan memujinya dan ia akan menjual resepnya dengan harga tinggi. Apalagi hadiah lombanya adalah sebuah toko kue bertingkat dua, siapa yang tidak tergiur.

Setelah hampir lima hari, Billy belum juga berhasil membuat karamel madu, ia bingung, kenapa Nenek Carol berhasil membuatnya. Kebetulan siang itu Billy ingin membeli telur di toko seberang rumahnya. Ketika disana tidak sengaja ia mendengar pembicaraan dua beruang dekat toko tersebut. Ternyata di resep Nenek Carol terdapat ramuan khusus dan hanya ia yang mempunyainya. Setiap yang meminta resep darinya pasti akan diberikan ramuan tersebut, karena Billy menolaknya makaia tidak mendapatkannya.

Billy mencari cara bagaimana ia bisa mendapatkan ramuan tersebut. Dengar-dengar Nenek Carol hari ini akan menginap di desa seberang untuk persiapan lomba memasak kue yang diadakan lusa, karena ia merupakan juri pada lomba tersebut. Billy mendapat cara bahwa ia akan menyelinap masuk ke rumah Nenek Carol pada malam hari. Kebetulan Shila yang dititipi kunci rumahnya.

Pada sore hari, ia menuju rumah Shila dan memintanya untuk mengantar kue pesanan, rumahnya agak jauh dari sana. Memang biasanya jika Billy mendapat pesanan kue, Shila yang mengantarkannya. Ketika Shila pergi, Billy mencari kunci rumah Nenek Carol. Ia pun berhasil menemukannya. Di malam hari ia berhasil menyelinap masuk ke rumah Nenek Carol, katanya ramuan tersebut ditaruh di dapur. Ketika di dapur Billy kebingungan, karena banyak ramuan yang ditaruh di botol-botol. Akhirnya Billy mengambil ramuan yang tidak ada tulisannya.

Sesampainya di rumah Billy mencoba membuat karamel madu dan ternyata berhasil, tetapi ia belum mencoba menuangkannya di atas kue jeruk. Biar nanti menjadi kejutan ketika lomba.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, Billy merasa yakin bahwa ia yang akan menjadi pemenangnya. Lomba berlangsung selama satu jam. Di menit-menit terakhir Billy sudah berhasil membuat kue jeruk dan karamel madunya. Setelah itu ia akan menuangkan karamel dan menghiasnya dengan taburan coklat crispy. Ketika menuangkan karamel madu, tiba-tiba kue jeruk yang sudah jadi meleleh, Billy menjadi panik dan semua peserta lomba terkejut.

Waktu untuk membuat kue pun habis, tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kue buatan Billy. Ternyata Nenek Carol mengetahui bahwa Billy berusaha mencuri ramuan miliknya, karena Billy lupa menaruh kembali kunci rumah pada Shila. Billy mengambil ramuan yang salah. Dari sinilah Billy menyadari akan keserakahannya, ketamakannya. Semuanya membuat ia angkuh dan menolak pertolongan dari orang lain. Bukan menjadi yang terbaik malah kue buatannya yang hancur.

Kristal Pelangi


“Shanty, habiskan bubur gandummu!” seru Mom.

“Tapi mom kan tahu kalau aku tidak suka,” bantahku.

“Ini demi kesehatanmu sayang, pokoknya kalau buburnya masih utuh ketika mom pulang, buku-buku dongengmu akan mom sita.”

Aku mencibir mendengar ancaman mom barusan. Kenapa mom suka sekali menyuruhku menghabiskan bubur gandum. Padahal jelas-jelas aku benci dengan makanan tersebut. Mom tetap saja bersikeras memaksaku untuk menghabiskannya setiap hari. Aku lebih suka pancake buatan mom atau roti croissant yang diolesi keju untuk sarapan, tetapi mom tidak akan membiarkanku menyentuh kedua makanan tersebut sebelum kuhabiskan bubur gandum.

Mom sengaja mengancamku akan menyita buku-buku dongeng yang kini tengah berserakan di hadapanku. Baru saja kemarin Paman Leigh datang ke rumah dan membawakan satu tas penuh dengan buku-buku dongeng kesukaanku. Aku terlalu asik dengan barang baruku sehingga membiarkan bubur gandum di hadapanku dingin. Tentu saja itu membuat mom jengkel, aku berniat akan membuat bubur tersebut setelah mom pergi dari rumah.

Mataku sedari tadi terpaku dengan sebuah judul yang sangat unik diantara judul-judul buku di hadapanku. Judulnya adalah Kristal Pelangi. Unik dan cukup berhasil mengalihkan perhatianku kepadanya. Disitu menceritakan tentang seorang penyihir yang mempunyai kristal pelangi dan hanya dia satu-satunya yang mempunyai benda hebat tersebut. 

Kristal pelangi bukan sembarang kristal, bentuknya seperti dua peluru kembar, disebut pelangi karna benda tersebut mengeluarkan beberapa warna. Jika menyebutkan keinginan kita di hadapan benda itu, maka akan terkabul setelah 10 menit. Aku sangat berharap kristal pelangi menjadi kenyataan dan akan memintanya supaya mom berhenti memaksaku menghabiskan bubur gandum.

Kulirik jam dinding di hadapanku, menunjukkan pukul 1 siang, bentar lagi mom akan datang. Oh iya, aku lupa belum membuang bubur gandum sebelum mom datang. Di saat aku kebingungan mencari tempat pembuangan yang aman,tiba-tiba bel rumah berdering. Aku panik, pasti itu mom. Kubuang ke luar jendela dan berniat sehabis ini akan membersihkannya sebelum mom menyadarinya. Ketika pintu dibuka ternyata bukan mom, seorang wanita muda mirip penyihir yang ada di buku dongeng. Aku tercengang beberapa saat, sampai akhirnya dia menyapaku.

“Hai, aku Emily! Kebetulan aku lewat depan rumahmu dan ingin meminta izinmu untuk meminjam toiletmu sebentar,” ujarnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Oh i..i..iyaa, silahkaan masuk,” jawabku dengan terbata-bata.

Berkali-kali kucubit kedua belah pipi, terasa sakit. Aku sedang tidak bermimpi. Setelah ia selesai memakai toilet, aku mempersilahkannya duduk dan memberikan segelas lemon hangat. Ternyata orangnya sangat ramah, kami berbincang-bincang dan sepertinya ia mulai menyukaiku.

“Kau anak yang baik Shanty, sebagai hadiah kamu boleh mengatakan satu permintaan yang nanti akan kukabulkan.”

Tidak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah kristal berbentuk dua peluru kembar yang memancarkan beberapa warna. Kristal pelangi!

“I..ini kristal pelangi?”

“Yup, kamu benar. Ayo, katakan permintaanmu sekarang.”

Tanpa pikir panjang langsung kukatan pemintaan yang sedari tadi menggelayut di pikiranku, “Aku ingin mom berhenti memaksaku untuk menghabiskan bubur gandum.”

“Permintaanmu akan terkabulkan setelah 10 menit. Baiklah sepertinya aku harus pamit anak manis, terima kasih atas jamuannya.”

“Emily, bolehkah kau memberi tahuku dimana aku bisa menemuimu?”

“Pergilah ke bukit kembar di ujung sana ketika matahari tepat di atas kepalamu.”

Setelah 10 menit kepergian Emily, mom pulang. Mom hanya tersenyum melihat mangkuk bubur kosong, untungnya tadi sepeninggal Emily aku sempat membersihkan bubur yang berserakan di luar jendela. Keesokan harinya aku tidak mendapati semangkuk bubur gandum di meja makan ketika sarapan, hanya ada roti croissant dan pancake buatan mom. Hatiku menjerit bahagia, aku harus berterima kasih kepada Emily. Akhirnya hidupku bebas dari bubur gandum.

Ternyata sampai beberapa hari selanjutnya semangkuk bubur gandum tetap tidak tersaji di meja makan. Aku bebas menyantap pancake dan roti croissant sesukaku. Sampai pada suatu hari aku merasakan perih pada lambungku. Lama-kelamaan semakin menusuk-nusuk lambungku. Sambil menahan sakit, aku berjalan menuju kamar mom memintanya obat. Ternyata mom tidak ada di kamar, lalu aku pergi ke dapur mengobrak-abrik kotak obat-obatan, mungkin ada yang bisa mengurangi rasa sakitku.

Tiba-tiba sebuah kertas jatuh, sepertinya resep dari dokter. Disitu tertera namaku, juga tertulis bahwa ada infeksi di lambungku. Obatnya adalah mengkonsumsi bubur gandum setiap pagi. Aku terkejut, selama ini mom menyembunyikannya. Selama ini mom hanya mengatakan bahwa bubur gandum baik untuk kesehatan. Aku melihat mom sedang duduk terdiam di ruang keluarga.

“Mom, kenapa harus merahasiakan semua ini kepadaku?” tanyaku.

Mom hanya terdiam dan tidak bergeming. Pandangannya lurus ke arah televisi. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, tetap saja mom terdiam. Kuperiksa detak jantungnya dan ternyata normal. Keringat dingin membasahi pelipisku, aku baru ingat di buku dongeng tertulis bahwa sihir dari kristal pelangi ada efek sampingnya. Mungkin inilah efek samping dari sihir tersebut. Aku panik bukan main. Akhirnya dengan keadaan lambung yang semakin parah, aku berniat pergi menuju bukit kembar menemui Emily sebelum matahari berjalan melewati kepalaku. 

Dengan terseok-seok akhirnya aku sampai di bukit kembar. Aku ragu bisa mendakinya dengan keadaan seperti ini. Kucoba mendaki bukit tersebut pelan-pelan, langkah demi langkah menuju puncak. Beberapa saat kemudian tiba-tiba lambungku seperti ditusuk sembilu, badanku oleng dan akhirnya terperosok jatuh.

“Shanty, bangun sayang. Kenapa buburnya masih utuh?”

Kubuka kedua kelopak mataku, ternyata mom. Aku menatap kikuk sekelilingku, mangkuk berisi bubur gandum masih utuh di hadapanku. Buku dongeng berjudul Kristal Pelangi pun menjadi alas tidurku. Ternyata semuanya hanya mimpi.

“Maaf mom, tadi ketiduran tapi aku akan menghabiskannya sekarang,” seruku.

Kali ini aku berjanji akan menghabiskan bubur gandum setiap pagi dan tidak akan menyisakannya sedikit pun. Tanpa kusadari ada yang memperhatikanku di balik jendela.

Senin, 30 September 2013

Tipu Muslihat Peri Hutan



“Cepat selesaikan pekerjaanmu, dipenjara sama ratu baru tahu rasa kamu,” ujar Lena.

“Berisik kau! Aku malas bekerja keras buat si ratu tamak,” jawabku sinis.

“Hati-hati kau berbicara Bella!”

Kulemparkan baju putih bersih setengah jadi ke atas bangku kayu. Segera kuambil kembali, karena baju tersebut terbuat dari kain sutra yang sangat sensitif dengan benda kasar. Ujung-ujungnya hanya kupelototi saja baju yang hampir jadi di hadapanku. Baru kali ini aku membuat baju sutra lebih dari sehari, bahkan sudah hampir seminggu pesanan ratu kuanggurkan. Aku benar-benar tak sudi bekerja keras demi ratu tamak itu. 

Padahal aku terkenal sebagai pembuat baju sutra terbagus di kalangan peri-peri hutan. Maka tak jarang aku sering mendapat pesanan dari ratu kerajaan peri. Selain bagus kualitasnya, pesanan juga cepat jadi, hanya butuh sehari aku menyelesaikan satu baju. Bahkan pernah aku membuat 100 baju sutra dalam sebulan untuk pesta ulang tahun ratu dan semua selesai dengan kedua tanganku. 

Mulai aku berumur 14 tahun, aku sudah mahir menenun kain-kain sutra, lalu dijadikan sehelai baju yang indahnya bukan main. Aku belajar dari ibuku, karena beliau sudah tua, maka aku yang meneruskan pekerjaannya dan ternyata aku menuruni kepandaiannya dalam hal ini. 

Akhir-akhir ini kerjaku payah sekali, sudah hampir seminggu satu baju pun tidak ada yang kuselesaikan. Semua peri hutan pembuat baju sutra terheran-heran, termasuk sahabatku, Lena. Ada yang menyangkaku sakit, atau terkena flu yang virusnya berasal dari ulat sutra. Semua dugaan salah. Aku normal, malas pun tidak sebenarnya, aku hanya tak sudi bekerja dengan seseorang yang kubenci.

Semenjak kematian Ratu Venice, kedudukan Ratu peri hutan digantikan oleh sosok yang sangat tamak dan kejam, yaitu Ratu Elly. Dia selalu menjejali rakyatnya dengan pekerjaan berat. Bayangkan, dalam seminggu setiap peri pembuat baju disuruh membuat 30 baju sutra. Ulat-ulat sutra sampai pucat karena kelelahan memproduksi sutra. Kerjaannya menimbun harta, termasuk baju-baju sutra yang dibuat oleh peri-peri hutan. Jika tidak menyetor 30 baju sutra, peri tersebut akan diancam masuk penjara atau diambil secara paksa semua hartanya, kejam!

Dulu, setiap Ratu Venice memintaku membuat baju sutra, setelahnya pasti aku diberikan hadiah sebagai tanda terima kasih. Dia sangat menghargai jerih payah rakyatnya, maka tak jarang banyak peri-peri hutan yang menawarkan dirinya dibuatkan baju sutra. Namun, beberapa minggu lalu, ada seseorang menyusup kerajaan, lalu membunuh Ratu Venice. Ada yang menduga bahwa yang membunuh adalah suruhan Ratu Elly.

Sekarang aku harus bekerja dengan pembunuh ratu kesayanganku, si tamak nan kejam. Makanya, dengan sengaja aku mengulur-ulur pekerjaanku, berbagai nasihat kudapatkan. Aku sudah tahu resiko yang kudapatkan, dipenjara kah? Atau semua harta keluargaku dirampas? Atau yang lebih kejam, dipotong kedua tanganku? Aku bergidik.

“Bu, aku ingin jadi kumbang saja, lalu menjadi prajurit kerajaan, pada malam hari kuculik Ratu Elly dan kubuang ke Negri seberang,” ujarku penuh emosi.

“Bella, tidak boleh seperti itu. Kita sama-sama tahu bahwa Ratu Elly sering berbuat semena-mena kepada rakyatnya, tetapi bukan lantas dibalas dengan keburukan juga,” nasehat Ibu.

“Terus dengan apa?”

“Dengan kebaikan yang membuatnya jera untuk berbuat kejahatan”.

Semalaman aku berpikir keras apa yang dikatakan ibu tadi siang. Kira-kira apa ya kebaikan yang membuat si pelaku jera? Berhari-hari aku berpikir kata-kata ibu itu. Sudah hampir dua minggu pekerjaan kuanggurkan, demi menyelesaikan teka-teki perkataan ibu.

Akhirnya aku mendapatkan ide untuk membuatnya jera, bukan dengan kebaikan tetapi dengan mengelabuinya. Kubuat satu baju terbuat dari kain biasa bukan sutra. Lalu keesokan harinya aku pergi menghadap Ratu Elly. 

“Mana baju buatanmu? Sudah hampir dua minggu kamu tidak memberi baju sutra,” perintah Ratu Elly.

“Ini bajunya ratu,” jawabku sambil menyerahkan baju sederhana ke hadapannya.

“Baju apa ini? Jelek sekali, hanya satu pula, kamu mau main-main denganku?”

“Tenang dulu ratu, ini baju terbuat dari benang yang lebih indah dari sutra. Dua minggu lalu aku menemukan ulat yang menghasilkan benang yang super indah ini. Benangnya sangat tipis dan mudah rusak, harus ekstra hati-hati menenunnya, maka dari itu menghabiskan waktu yang lama”.

“Tetapi mengapa kain ini begitu kusam?”

“Baju ini akan terlihat indah hanya dengan orang yang suci hatinya, dipenuhi oleh kebaikan, begitu yang dikatakan ulat penghasil benang ini. Sengaja kubawakan satu untuk ratu sebagai contoh”.

Ratu Elly terdiam mendengar penjelasanku.

“Coba buktikan perkataanmu tadi”.

Dipanggilkan seluruh pelayan kerajaan, termasuk prajurit-prajurit. Semua memuji baju yang kubuat. Mereka memang sudah bersekongkol denganku. Kebetulan aku mempunyai teman yang bekerja di istana dan ternyata semua penghuni istana membenci Ratu Elly. Ratu Elly pun semakin penasaran, lalu dia berkata, “Baiklah, baju ini akan kusimpan. Mungkin hari ini aku sedang tidak enak badan jadi penglihatanku sedikit mengabur”. Dia berkilah.

Setelah itu Ratu Elly rutin memesan baju tersebut kepadaku. Semakin hari, dia berubah menjadi lebih bersahaja, karena aku bilang kepadanya bahwa semakin kita berbuat kebaikan maka baju ini akan terlihat semakin indah. Dalam sebulan Ratu Elly menjelma seperti Ratu Venice yang baik hati. Maka dari itu setelah ini aku berniat akan membuatkan baju sutra asli yang indah untuknya sebagai bukti perkataanku dan penghargaan dariku untuk kebaikannya.

Sebenarnya caraku membuat jera salah, yaitu dengan mengelabuinya. Itu semua dikarenakan sampai saat ini aku belum memecahkan teka-teki perkataan ibu. Apakah kebaikan yang membuat jera pelaku kejahatan?

Sabtu, 14 September 2013

Origami


Lengkap 100! Ah, lelah sekali selama dua hari penuh aku melipat origami berbentuk burung. Sekarang tinggal diikat dengan benang dan kutempel di langit-langit kamar. Ternyata tidak cukup langit-langit kamarku menampung 100 origami, kugantung di jendela kamar, bukan hanya disitu saja tetapi di dahan pohon yang menjulur dekat jendela. Di musim semi pasti banyak angin sejuk yang meniupkan seluruh penjuru kota London, tentunya burung-burung origamiku akan bergerak-gerak tertiup angin seakan-akan seperti hidup.

Aku gemar membaca komik-komik Jepang, pamanku yang bekerja di Negeri Sakura itu sering membawakanku ketika ia pulang ke London. Ada yang versi Inggris ada juga yang Jepang, aku juga suka belajar huruf kanji Jepang yang rumit melaluinya. Dari komik itulah aku mengenal origami, jadi disana menceritakan seorang gadis yang suka melipat origami berbentuk burung. Konon, barang siapa yang berhasil membuat 100 origami burung, menaruhnya di langit-langit kamar, lalu berdoa maka harapannya akan dikabulkan.

Sebenarnya banyak mitos-mitos Jepang yang kudapatkan dari cerita-cerita komik, tetapi menurutku mitos origami yang paling menarik. Lalu aku terobsesi membuat origami sejumlah seratus. Pada hari ini, di umurku yang ke 13 tahun, aku berhasil menyelesaikannya. Setelah selesai kugantung semua origami, kurebahkan tubuh mungilku di atas lantai kamarku yang terbuat dari kayu. Sebenarnya tujuanku membuat 100 origami bukan untuk harapanku dikabulkan, akan tetapi aku ingin seratus burung-burung origami ini membawa tubuhku pergi dari rumah ini.

“Mom, lihat Anne! Sudah kubilang dia aneh, dua hari mengurung diri hanya untuk menyampah kamarnya sendiri,” teriak Mary, kakakku. Bukan, dia terlihat lebih seperti penyihir.

“Anne, kertas-kertas itu kalau ditaruh di atap kamar bisa jadi sarang serangga, cepat bersihkan,” pinta Mommy dengan lembut.

Andai daddy masih hidup, pasti dia akan membelaku, memahamiku. Tidak hanya sekali ini saja, dulu ketika musim panas aku menaruh bola-bola kertas dilapisi dengan kain putih ditaruh di sekeliling jendela, Mary merusaknya. Tidak bisakah mereka toleransi dengan imajinasiku? aku hanya anak kecil yang ingin mempunyai dunia yang berbeda. Tidak ada yang bisa mengerti, aku hanya ingin mereka menghargai duniaku.

Maka dari itu, aku berharap pada malam hari nanti burung-burung ini akan hidup dan membawa tubuhku pergi dari rumah ini. Aku ingin pergi ke rumah nenekku di desa sana, kuharap mereka akan membawaku kesana. Sering kali aku merengek ingin mengunjungi nenek kepada mommy, tetapi ia tidak mengijinkan. Aku tahu mengapa mereka tidak mengijinkan aku kesana, karena dulu sewaktu aku berumur 3 tahun sempat tinggal bersamanya selama dua tahun. Ketika itu mommy dan Mary pergi ke Wina, daddy kecelakaan dan meninggal disana. Aku mengetahuinya ketika berumur 10 tahun, itu pun aku mengetahuinya dari pamanku.

Nenek selalu mendongengkanku setiap sebelum tidur, dari kisah Cinderella, Thumbelina, dan sebagainya. Sampai ketika mommy menjemputku pulang, aku menolaknya, aku ingin pergi ke kastil para peri. Kata nenek letaknya tidak jauh dari rumahnya, mommy memarahiku dan mengatakan bahwa itu semua hanya khayalan. Akan tetapi aku tetap bersikeras ingin pergi kesana, sampai-sampai mommy memarahi nenek, gara-gara semua cerita khayalannya aku sering meminta sesuatu yang konyol. Semenjak saat itu, aku tidak pernah dibolehkan mengunjungi nenek, pasti dia sedih sekali.

Tepat jam 9 malam aku sudah siap di atas ranjangku, bersiap-siap menutupi tubuhku dengan selimut. Lalu mematikan lampu kamar sebelum mommy datang melihatku masih bermain-main dengan origami. Bisa-bisa mommy menyuruh Mary merubuhkan semua origami yang kugantung di langit-langit kamar. Sebelum memejamkan mataku, kuberkata lirih, “Bawa aku pergi dari rumah ini”.

Belum sempat memejamkan mata, terdengar suara gaduh jendela tertiup angin, aku lupa menutupnya. Ternyata bukan angin yang membuat jendela bergerak, tetapi origami-origamiku. Sedikit demi sedikit burung-burung origami itu mengepakkan sayap mereka. Lama kelamaan semua burung yang ada di kamarku dan di dahan pepohonan ikut mengepakkan sayap mereka.

Semua burung yang ada di langit-langit kamar keluar serempak melalui jendela, yang di jendela dan di dahan pepohonan pun semua berkumpul menjadi satu. Seratus burung origami berkumpul menyusun diri mereka menjadi bentuk burung besar. Jadilah origami burung yang sangat besar di hadapanku.

“Ikut aku menuju kastil peri,” ajaknya.

Aku terkejut dia bisa berbicara, kuanggukan kepalaku menanggapi ajakannya. Kupanjat jendela, lalu jatuh terhempas di atas origami burung besar ini. Dia membawaku jauh menuju peri kastil, yang letaknya berada di desa tempat tinggal nenekku. Mommy berbohong, peri kastil benar-benar ada, lihat saja akan kubuktikan kepadanya dan tentunya juga si Penyihir Mary. Pasti mereka tidak akan lagi mengusikku.

Tidak sampai satu jam di hadapanku sudah terhampar pemandangan kastil yang indah. Di tembok-teboknya banyak ditumbuhi tumbuhan dan bunga-bunga. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi cahaya lampu yang menyoroti kastil dari bawah membuatnya terlihat megah. Burung itu tidak membawaku menuju kastil, tetapi menuju kebun apel tepat di belakang bangunan kastil.

“Hei, aku ingin turun di kastil peri bukan di kebun apel,” teriakku.

“Aku akan menunjukkan kamu sesuatu,” ujarnya.

Disana sudah ada tiga perempuan, yang satu seorang gadis, lalu di sampingnya seorang ibu, satunya lagi seorang nenek tua. Hei, mereka adalah mommy, Mary dan nenek! Aku terkejut bukan main, kenapa mereka semua berada disini? Disitu mommy dan Mary melihat sinis kepada nenek.

“Seharusnya kami yang lebih berhak atas tanah ini, tapi entah kenapa suamiku yang bodoh memberikannya kepadamu, padahal umurmu sudah tidak lama lagi, lebih baik untuk kami saja,” kata mommy dengan berapi-api. Di sampingnya Mary menganggukkan kepala tanda setuju.

Nenek hanya terdiam mendengar semua cercaan mommy.

“Kamu sengaja mengajak Anne ke kastil ini yang kau namai kastil peri supaya dia menganggapnya ini semuanya milik peri-peri bukan tanah rampasanmu!”

“Aku tidak pernah merampas darimu Lily…” belum selesai nenek berbicara, mommy memotongnya.

“Tak akan kubiarkan kau menyentuh Anne, apalagi membiarkan dia mengunjungimu, ingat itu!”

“Kamu sangat jahat! Aku tidak habis pikir kenapa anakku mau menikahimu, seharusnya kamu tahu Anne itu cucu kesayanganku, aku ingin sekali ditemaninya di sisa umurku, aku….”

Tiba-tiba tubuh nenek limbung ke tanah, jantung nenek kumat. Aku berteriak dan berlari ke arah nenek, anehnya aku tidak bisa menyentuhnya. Tidak satu pun dari mereka yang mendengar teriakanku. Aku berlari ke arah origami burung ingin bertanya apa sebenarnya yang terjadi, dia menghilang! Oh tidak, ku harap ini semua hanya mimpi.

Benar saja, ketika aku sadar dan membuka kedua bola mataku, aku masih berada di atas ranjang. Ternyata hanya mimpi, aku menghela napas lega. Mengambil tisu, membersihkan keringat dingin yang bercucuran. Kutatap di sekeliling langit kamar, semua origami masih tetap pada tempatnya. Lalu samar-samar kudengar kegaduhan di lantai bawah. Langsung ku menuju lantai bawah menuruni tangga. Kulihat mommy terisak menangis, Mary merangkulnya sambil menangis lebih kencang.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Nenek meninggal,” jawab Mary.

Tiba-tiba aku menjadi sangat benci kepada mommy.