Pages

Labels

Senin, 15 Oktober 2012

Jalan Setapak yang Mengerikan



Ketika itu sedang terjadi kerusuhan di Mesir, yaitu revolusi Mesir pada 25 Januari 2011, jadinya pada hari-hari kerusuhan semua jaringan telepon dan internet dimatikan. Aku dan temanku pada saat itu ragu untuk kumpul di sekretariat IKPM (Ikatan Keluarga Pesantren Modern). "Ya sudahlah, kita berangkat aja, takutnya yang lain pada kumpul", ujar temanku. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berangkat menuju daerah Bawabah di bilangan Hay Asyir. Sampailah kami di tempat pemberhentian bus seberang apartemen kami dan ternyata tak ada satu pun bus maupun tremco[1] yang berlalu-lalang, keraguan pun mulai menjalar di pikiranku lagi, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dengan taksi.

Setelah sidang redaksi usai, kami pun singgah di rumah makan bang Bobi yang kebetulan dekat dengan sekretariat. Sepi sekali tidak ada satu pun Masisir yang mengunjungi tempat tersebut. Sambil menunggu pesanan, kami melihat di televisi bahwa pada hari itu ada kerusuhan lagi di Maidan Tahrir, ah kan yang demo di Tahrir bukan disini, pikirku. Setelah dari Bang Bobi kami menunggu teman kami di depan swalayan "Khoiru zaman", karena telah terlanjur membuat janji kepada teman kami bahwa akan berbelanja disana tepat pada pukul enam sore.

Jalan raya pun makin sepi, sepi, dan makin sepi, bodohnya kami berdua tidak menyadarinya dikarenakan asik bergosip ria. Memang dasar wanita, ketika sedang asik bergosip mereka lupa dengan sekitarnya. Akhirnya kami pun menyadari bahwa sudah satu jam kami menunggu, dan jalanan pun makin terasa sepi. Sedikit orang-orang tersisa, mereka berlari-lari mengejar tremco yang lewat karena mereka takut tidak mendapatkan kendaraan pulang.

Setelah beberapa menit kemudian, Khoiru Zaman TUTUP! Dan ternyata bukan Khoiru Zaman saja yang tutup, tapi toko-toko yang lain pun turut mengakhiri jam kerja mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, dan setelah menunggu setengah jam tidak ada satu pun bus ataupun tremco yang lewat, adapun yang lewat tapi penuh dengan penumpang. Orang-orang Mesir kebanyakan menaiki truk yang kebetulan lewat dan menawarkan tumpangan, karena semua bus sudah penuh ketika melewati Hay Asyir dan mustahil bagi kami untuk menaiki truk yang penuh sesak oleh pria-pria Mesir.

Lama sekali kami menunggu, dengan keputusan yang sedikit gila kami pun memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki menuju daerah Zahro yang jauh sekali letaknya dengan daerah Bawabah ini. Jalan, jalan, dan jalan yang kami lakukan dan ketika sampai di daerah Gami' kami mencoba lagi menunggu bus ataupun tremco. Tapi hasilnya Nihil! dan ketika itu kami melihat seorang ibu-ibu Rusia yang tengah menggendong anaknya, aku merasa kasihan melihatnya, tetapi apa daya jangankan untuk menolongnya untuk pulang ke rumahku saja aku tak tahu harus bagaimana. Taksi pun penuh dengan penumpang, tetapi akhirnya ibu-ibu Rusia itu ditolong oleh seorang lelaki Rusia. Waaah senangnya, coba ada orang Indonesia yang lewat lalu menolong kami berdua, tapi itu suatu hal yang tidak mungkin.

Kami pun meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, ketika sampai di daerah Madrasah ada bus 81 jurusan Zahro menurunkan penumpang. Ketika kami ingin menaiki bus tersebut seorang lelaki Mesir berteriak, "La!Mashri bas!"[2], yassalaaam!

Kata-kata berupa cacian pun keluar begitu saja dari mulutku, dan ada kejadian yang menegangkan lagi ketika kami sampai di daerah Suq Madrasah, kami melihat ada kobaran api yang sangat besar berasal dari terminal bus Hay Asyir. Kami bingung harus kemana, ketika itu ada 2 orang lelaki Indonesia yang lewat dan aku hendak meminta pertolongan, tapi mereka hanya melihat dengan tatapan tidak peduli. Temanku langsung berkata, "Udahlah, kita juga bisa sendiri kok!", aku tahu dia berkata seperti itu hanya untuk menghibur dirinya.

Tak ada jalan lain, aku pun menarik tangan temanku menuju gang-gang kecil di sekitar Suq Madrasah yang sangat gelap dan sunyi, karena pintu-pintu dan jendela-jendela rumah terkunci dengan rapat. Parahnya aku tidak terlalu hafal jalan di daerah sini, ya Rabb!. Ah tapi kan jalan di Mesir hanya kotak-kotak saja, pikirku. Aku pun berjalan super cepat disertai dengan otakku yang berjalan menentukan arah-arah yang akan kita tempuh dan dengan merangkul tangan temanku. Tangan temanku berkeringat dingin dan gemetar, dia memegang tanganku kuat sekali. Dia ketakutan sekali dan hampir menangis, jika aku menangis juga maka itu sama saja membuang waktu. Dengan keberanian yang dipaksakan aku berjalan menuju jalan-jalan sempit yang diapit oleh apartemen.

Akhirnya kami tiba di tempat pengisian bensin, dan terlihat jelas ternyata kobaran api tersebut berasal dari tempat polisi yang berada di terminal bus Hay Asyir yang memang sengaja dibakar oleh masyarakat setempat. Akhirnya kami tiba diperbatasan Hay Asyir dan Zahro. Disana banyak tentara-tentara yang membawa senapan sedang memeriksa mobil-mobil pribadi yang lewat sana, setelah kuperhatikan tidak ada satu pun perempuan yang lewat sana. Memang inilah pengalaman kami yang bodoh dan gila. Sampailah kami di rumah, kami pun disambut oleh penjaga apartemen kami. Memang pada hari itu KBRI sudah mengumumkan bahwa tidak boleh keluar rumah setelah jam 4 sore, tetapi kabar itu tidak sampai rumah kami.

Ternyata, ketika kami pergi dari rumah, ada kerusuhan di depan apartemen kami dan sampai merusak pemberhentian bus di seberang. Salah satu teman kami mencoba mengambil gambar dengan kamera, tiba-tiba tetangga atas flat kami meludahinya dan melempar bantal, karena mereka melihat cahaya kamera dari jendela flat kami. Memang ketika di zaman kepemimpinan Husni Mubarok semua kejadian kriminal tidak pernah dipublikasikan, baik dalam negri maupun luar.

Setelah beberapa hari, akhirnya ada berita bahwa orang Indonesia di Mesir akan dievakuasikan ke tanah air. Meski hanya beberapa minggu di Indonesia, tetapi akhirnya aku bisa pulang ke tanah air dengan gratis. Ternyata dari jalan setapak yang mengerikan berakhir dengan manis.




[1] Nama alat transportasi di Mesir, kalau di Indonesia sering disebut dengan angkutan umum
[2] Artinya: Nggak boleh, ini khusus orang Mesir saja

Selasa, 09 Oktober 2012

Peradaban hebat dan Warung Mang Jali



“Awas, awas!” ujar lelaki paruh baya kepadaku. Aku terkejut. Ternyata aku hampir tertabrak oleh sepeda motor yang ditumpanginya. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah warung kecil yang hanya berjarak lima langkah dari tempatku berdiri.

 “Assalamualaikum Mang Jali, sehat mang?,” sapaku

“Waalaikumsalam, hamdulillah sehat, duduk Sim! Mau minum apa kamu?,” ujarnya sambil mengaduk kopi pesanan pelanggan.
 “Apa aja mang”. 

Tepat di sebelah kananku ada anak lelaki, kutaksir umurnya baru enam belasan tahun karena dia mengenakan seragam SMA yang masih terlihat baru. Gayanya persis anak-anak muda jaman sekarang, rambut model artis korea, kacamata besar yang lagi-lagi meniru artis korea, jam tangan besar, matanya tidak tertuju kemana-mana kecuali fokus terhadap Blackberry-nya.

Setiap hari Kamis, aku selalu menyempatkan bersinggah di warung kecilnya Mang Jali. Kebetulan di hari itu tidak ada jam kuliah sampai sore dan tidak ada kegiatan kampus lainnya. Hanya berbicara santai saja sebenarnya sambil menikmati udara sejuk sore hari di Kota Bogor ini. Kami seperti mengadakan kelas mendongeng, Mang Jali pendongengnya dan aku murid setianya. Berbicara banyak hal, kami paling senang membicarakan masa depan.

Hari ini Mang Jali berjanji akan menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan, sebuah peradaban paling hebat yang dimiliki oleh Negara ini. “Kamu pasti pernah mendengar isu-isu tentang Benua Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Cerita tentang Benua Atlantis dipopulerkan oleh Plato, dari kesekian ilmuwan yang menyebutkan ciri-ciri Benua Atlantis dan semua kriterianya yang cocok itu cuma Indonesia saja”. Aku semakin antusias mendengarnya.

Jadi menurut ceritanya, dulu ada yang meneliti Indonesia dan terbukti bahwa Negara ini adalah Benua Atlantis yang hilang, yang dimana benua tersebut adalah pusat peradaban manusia. Dulu, pulau Jawa dan Sumatra itu satu pulau dan begitu juga pulau-pulau lainnya, tapi karena kejadian melelehnya es-es yang berada di kutub dan meletusnya induk Krakatau jadinya banyak pulau-pulau yang terpisah.

Sambil menyeruput kopi hangat miliknya, dia melanjutkan ceritanya. Konon, salah satu gunung yang berada di Garut itu adalah Piramid. Biasanya sebuah gunung itu strukturnya menyatu dengan tanah dan terlihat ketika dideteksi, tapi ketika dideteksi oleh alat khusus ternyata gunung tersebut adalah batu-batu yang disusun dan terlihat seperti Piramid. Ternyata bukan hanya di Garut saja, di Pulau Sumatra juga terdapat banyak Piramid yang baru ditemukan. Piramid yang berada di Garut setelah diteliti, ia lebih tua dibandingkan Piramid yang berada di Mesir.

Sayangnya semua ini tidak dipublikasikan, karena semuanya hanya akan merusak sejarah. Ya, karena sejarah yang sudah dikenal adalah Mesir, dimana di sanalah termasuk pusat peradaban tertua di dunia. Sebenarnya sudah ditemukan oleh Belanda Piramid-piramid tersebut, tetapi mereka sengaja menimbunnya dengan tanah biar bangsa ini tidak tahu bahwa negaranya memiliki peradaban yang hebat. 

“Konon juga Nabi Sulaiman dulu hidup di Negara kita ini, karena kalau nggak salah di Pulau Kalimantan ditemukan bekas pemindahan istana Nabi Sulaiman,” ujarnya dengan gayanya yang khas. Kalau benar Benua Atlantis adalah Indonesia artinya peradaban bangsa ini lebih tua daripada Mesir, Yunani, dan lainnya, karena Benua Atlantis adalah pusat peradaban manusia. Terbukti di salah satu buku yang ditulis oleh ilmuwan Eropa bahwa banyak istilah-istilah di Eropa yang mengambil dari peradaban Mesir, dan Mesir mengambilnya dari Indonesia.

“Salah satu bukti tuanya peradaban bangsa kita. Di Indonesia ini ada berapa bahasa? Coba kamu hitung,” ujarnya.

“Banyak banget mang, nggak tau berapa”

 “Nah, banyak banget kan? Coba deh kamu cari, Negara mana yang punya bahasa sebanyak Indonesia”. Aku pun menggeleng.

Nggak ada Sim, nggak ada! Bahasa Sunda contohnya, kata mencuci dalam Bahasa Sunda aja ada dua kata. Kalau nyuci baju namanya nyeuseuh, kalau nyuci piring berarti dikumbah. Dan proses  untuk menjadi bahasa butuh jangka waktu yang lama. Kebayang kan segimana lamanya peradaban bangsa ini untuk membentuk bahasa yang banyak sekali jumlahnya”.

Dia memberi contoh lain, yaitu makanan. “Makanan Indonesia banyak sekali jenisnya, padahal cuma misalnya yang namanya sayur lodeh itu lengkoasnya dikit, kalau banyak jadi beda nama, yaitu sayur asem. Dan itu butuh waktu yang lama buat mempopulerkan makanan-makanan tersebut. Belum tentu kalau kamu bikin Keripik Hasim misalnya, itu bakal semua orang nyebut keripik itu adalah Keripik Hasim, ya mungkin di daerah kamu saja, tapi di tempat yang lain kan nggak”. Aku hanya tertawa mendengar istilah Keripik Hasim, lucu saja kalau namaku dijadikan nama keripik.

Bapak tua yang ada di sampingku membayar kopi pesanannya, sedangkan bocah SMA yang ada di sebelahku masih betah dengan gadget-nya itu. Aku heran, padahal aku dan Mang Jali hampir setengah jam bercerita-cerita dan dia masih dalam posisi yang sama ketika aku datang ke warung ini. Sepertinya dia sedang ada masalah dengan kekasihnya, soalnya aku sempat mendengar dia menggerutu sambil menyebut-nyebut nama seorang gadis.

“Bodohnya, bangsa ini tidak menyadari bahwa negaranya punya peradaban yang hebat ini. Sayang sekali, Negara yang kaya ini dihuni oleh orang-orang bodoh, seperti para koruptur, pecandu narkoba, dan masih banyak lagi. Kamu lihat saja gimana generasi mudanya, hidupnya sudah dikendalikan oleh teknologi modern, terlalu meniru gaya hidupnya barat, benar kalau meniru etos kerja dan belajarnya”. Bocah SMA disampingku hanya melirik, baguslah kalau dia menyadarinya. Akan tetapi aku salah, dia malah melanjutkan kegiatannya dengan gadget kesayangannya.

“Orang yang udah megang handphone, naon eta[1] namanya? Blackberry itu udah lupa sama sampingnya. Mau kita teriakin, mau ada maling, nya sabodo teuing lah, nu penting update weh[2],” ujar Mang Jali dengan logat sundanya yang khas. Bocah SMA di sampingku mulai merasa tersindir oleh ocehannya Mang Jali. Dia langsung memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam saku, dan langsung mengambil headset mendengarkan lagu dari MP3-nya. Mang Jali tersenyum meledek ke arahnya, dan aku hanya meringis.

Beberapa menit kemudian, lima orang gadis yang seragamnya sama dengan bocah SMA di sampingku datang ke warungnya Mang Jali. Sepertinya orang yang di sampingku bolos di beberapa jam pelajaran terakhir. Gadis-gadis tersebut sebagian menanyakan harga kepada Mang Jali, sebagiannya lagi fokus dengan aktivitas yang sama dengan orang di sampingku. Suara centil gadis-gadis SMA memecahkan suasanaku yang sedang terhanyut dengan indahnya cerita bangsaku. Pandanganku sama sekali tidak tertuju kepada mereka, aku hanya terdiam dan membaca buku yang sempat kubaca di perjalanan menuju kesini.

“Eh, si ujang! Maneh teh ngabolos nya hari ini? Eta babaturan maneh baru pada pulang sakolah[3],” ujar Mang Jali kepada bocah di sampingku. Bocah itu pura-pura tidak mendengar, aku langsung kesal karena teguran Mang Jali tidak digubrisnya. Mang Jali memberi isyarat kepadaku agar diriku tenang.
Kunaon maneh teh ngabolos?[4],” Tanya Mang Jali dengan suara lebih lembut

“Abisnya urang meni kesel ku si bapa, urang hayang dipeserkeun sapeda motor, meuni pelit pisan. Kabogoh urang minta diantar jemput make sapeda motor mang[5],” ucapnya panjang lebar

“Oh, kitu nya, maneh teh putrana[6] Mang Asep kan? Bapa maneh banting tulang biayain kamu narik becak sana-sini. Untung-untung si ujang teh masih bisa beli Blackberry, juga ibu kamu jualan kue buat uang jajan kamu, jangan malah pacaran, belajar yang rajin biar pengorbanan orang tuamu nggak sia-sia,” ujar Mang Jali menasehatinya.

Sok atuh uwih ka bumi, bade dicarekanan ku si bapa. Jadi anak teh yang berbakti, rajin belajar, nih contoh si Hasim, udah kasep, pinter, rajin pisan[7],”

Aku tersipu mendengar pujian yag dilontarkan Mang Jali, bocah itu pun akhirnya pulang setelah bersalaman dan meminta maaf padaku dan Mang Jali. Aku semakin salut sama Mang Jali. Pertama kali bertemu ketika aku sedang mencari kos-an yang dekat dengan kampusku. Kebetulan aku singgah di warungnya dan bertanya-tanya kepadanya, dan dia yang mencarikan kos-an ku. Dia yang mengajariku bahasa sunda, karena aku berasal dari Jawa Timur, Lamongan, dan kebetulan aku diterima menjadi mahasiswa di ITB. Setelah itu kami pun akrab, dan sering bertukar cerita.

“Oh iya, gimana kabarnya gadis yang kamu taksir itu? Yang satu fakultas denganmu itu”, Tanya Mang Jali, aku langsung tersadar dari lamunanku

“Oh itu mang, saya belum membuat tindakan sama sekali. Nanti saja kalau saya sudah siap buat segalanya baru saya datangin dia dan orang tuanya. Kalau sekarang-sekarang nanti malah buat pikirannya terganggu,” 

“Kamu ini ganteng Sim, pintar, banyak gadis-gadis tetangga kosan mu nanyain kamu sama mamang, karena kamu sering kesini,” ujarnya menggodaku, aku hanya tersenyum.

Mang Jali menepuk pundakku. “Orang tuamu pasti orang yang hebat, terbukti mempunyai anak yang hebat sepertimu. Pasti gadis yang kamu taksir juga wanita yang hebat, dia beruntung disukai oleh pemuda sepertimu”. 

Setelah membayar semuanya, aku berpamitan dengannya. Sebenarnya Mang Jali lebih hebat dari orang-orang yang ku kenal. Benar apa yang dikatakan Mang Jali, Negara ini kaya tapi dihuni oleh orang-orang bodoh. Buktinya, mereka menyia-nyiakan orang sehebat Mang Jali, seorang Sarjana Hukum yang hanya bisa berdagang di warung kecil lantaran tidak ada satu pun perusahaan yang memberikannya pekerjaan.

Adzan maghrib terdengar sayup-sayup, mengiringiku menuju rumah kos-an ku. Di pikiranku sudah tersusun rapi rencana-rencana masa depan, berkat sebuah cerita tentang peradaban hebat bangsa ini. Berkat cerita itu juga, satu generasi muda terselamatkan oleh nafsu-nafsu keremajaannya. Warung kecil yang menyimpan suatu peradaban yang tidak disadari oleh pemilik gedung-gedung pencakar langit.


[1] Apa itu namanya
[2] Mau kita teriakin, mau ada maling, bodo amat, yang penting update
[3] Eh, si ujang (panggilan untuk anak laki-laki dalam sunda) kamu bolos ya hari ini? Itu temen-temen kamu baru pada pulang sekolah
[4] Kenapa kamu bolos?
[5] Abisnya aku kesel banget sama bapak, aku minta dibeliin sepeda motor, pelit banget. Pacar aku minta diantar jemput pake sepedah motor
[6] Oh gitu ya, kamu tuh anaknya Mang Asep kan?
[7] Cepetan pulang ke rumah, nanti dimarahin sama Bapak. Jadi anak tuh yang berbakti, rajin belajar, nih contoh si Hasim, udah ganteng, pinter, rajin pula

Rabu, 26 September 2012

Cinta dari Si Manusia Kertas


"Hei, bujang! Kau pasti sedang membayangkan memakai seragam seperti anak-anak itu kan," ujar Pak Toba sambil menunjuk ke arah gerombolan anak-anak sekolah yang sedang menunggu angkutan umum. Aku pun hanya menggeleng, seperti biasa aku berbohong kepadanya. "Sudahlah, kau tak akan pernah bisa bohong kepada bapak tua ini," ujarnya kembali. "Kau tahu bujang? Kau ini lebih hebat daripada anak sekolahan itu. Di umur yang seharusnya masih adaptasi dengan dunia luar, kau lebih tahu dunia luar ini, kau tahu betapa kotornya politik dan bejatnya para pejabat yang korupsi lewat ini," katanya sambil mengibaskan koran di hadapanku, "Belum tentu anak sekolahan itu membaca koran, lihatlah kemana arah pandangan mereka! Kepada handphone! Kau jauh lebih jenius dibandingkan mereka!".

Aku tahu, lagi-lagi dia menghiburku dengan logatnya yang aneh. Entahlah darimana asalnya, setiap berbicara logatnya seperti orang batak, namanya pun seperti nama danau di Sumatra Utara, tapi wajahnya seperti orang Jawa tulen, aneh bukan?. Walaupun aneh, Pak Toba adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki, dia yang selalu bisa membaca pikiranku, apa yang kumahu. Dan setiap dia tidak bisa memenuhi apa yang kuinginkan, dia pasti menghiburku, dan membuktikan pada dunia bahwa aku orang yang hebat.

Bagaimana aku bertemu dengannya? Aku bertemu dengannya di suatu malam hujan deras yang membasahi kota Jakarta ini. Di salah satu sudut kota ini aku bertemu dengannya, ketika itu aku tak tahu kemana aku harus bermalam. Ya, di warung kopi di perempatan jalanan kota aku bertemu dengannya. Ketika itu aku tak punya uang untuk menghangatkan tubuhku yang tersiram hujan ini. Dia menyodorkan teh hangat di hadapanku sambil berkata, "Minumlah kalau kau tidak ingin membeku! Karena kau masih kecil, jadinya minum teh saja ya".

Aku baru saja kabur dari panti asuhan, gara-gara tidak ada lagi yang mempercayaiku disana. Aku selalu dituduh membuat nangis temanku, dituduh mencuri, bahkan ibu panti asuhan yang dulu sangat menyayangiku menikamku dari belakang. Semenjak itu, aku tidak pernah mengenal yang namanya 'cinta', aku dihina sebagai orang yang tak berperasaan, orang yang tidak hangat, dan aku memang berubah menjadi orang yang dingin. Aku saja lupa bagaimana siluet wajah kedua orang tuaku, aku benar-benar orang yang kosong dengan yang namanya cinta.

Setelah Pak Toba menawarkan teh hangat untukku, dia bertanya, "Dimana rumah kau?", aku pun hanya menggeleng. Dia menghembuskan nafasnya sebelum bertanya kembali, "Dimana orangtuamu?", lagi-lagi aku hanya menggeleng. "Baiklah, nanti kalau hujan sudah reda, ikutlah denganku," ujarnya.

Dia menarik tanganku menerobos orang-orang yang berteduh di warung kopi itu, hujan pun sudah reda. Dia membimbingku menuju rumah yang terbuat dari seng di pinggiran kali. "Jangan kaget kalau hujan turun, karena suara hujan yang terdengar dari dalam rumah ini akan menusuk kupingmu," katanya sambil menyeringai. Setelah itu kehidupanku berubah menjadi tukang koran keliling yang siap menjajakannya di salah satu lampu merah kota ini.

Aku senang membaca koran sejak itu, pengetahuanku meluas bahkan lebih luas dibandingkan ketika aku bersekolah di panti asuhan. Aku sering berdiskusi dengannya di sela-sela menjajakan koran, atau di depan rumah kecilnya sambil menikmati makanan hasil jerih payah hari itu. Dia tidak pernah bercerita tentang masa lalunya, tapi selalu bercerita tentang masa depan, "Nanti kalau tabunganku sudah cukup, aku akan menyekolahkanmu, tidak ada yang terlambat dalam menuntut ilmu, bujang".

Setelah beberapa bulan bersamanya, aku mulai bisa tersenyum hangat. Perasaanku kembali, aku mulai mengenal cinta, ya dirinya lah yang mengenalkanku kembali kepada cinta. Dari tukang koran inilah aku mengenal cinta, yang merubahku dari sosok yang dingin ke sosok yang hangat dan bersahabat. "Ternyata kau manis juga kalau tersenyum, nanti kalau kau sudah remaja, para gadis akan mengejar-ngejarmu," katanya sambil meninju pelan bahuku.

                                                                        ***
"Ada lomba cerdas cermat di kota, pokoknya kau harus ikut!," ujarnya dengan nafas yang masih tersengal sambil memamerkan selebaran pengumuman di hadapanku. "Okeh, tapi kau bisa menjamin tidak, kalau aku akan menang?" tanyaku sambil bertolak pinggang di hadapannya, "Aku jamin dengan rumah sengku ini, kau pasti menang!". "Besok aku akan mendaftarkanmu ke kota pagi-pagi, jadinya kau berjualan koran tanpaku," ujarnya lagi.

Esok harinya, Pak Toba sudah menghilang dari rumah. Aku segera mengambil topi dan berangkat untuk menjajakan koran di tempat biasa. Dia janji akan menjemputku di lampu merah selesai mendaftar. Ketika aku sedang asik berjualan, tiba-tiba ada kerumunan orang di seberang jalan tempatku berdiri. "Ada bapak tua yang ketabrak mobil," terdengar salah satu ocehan pedagang asongan yang tidak jauh dariku.

Aku berjalan santai menuju kerumunan orang-orang yang mengelilingi tempat kejadian. Dari sela-sela kerumunan, kaki korban terlihat dan aku mengenali sendal butut tersebut, jangan-jangan..... Benar saja, seketika kepalaku berat, wajah korban sangat ku kenali, yaitu Pak Toba. Aku langsung menyeruak masuk ke dalam dan memeluk badan tua yang sudah bersimbah darah, sebagian orang menatapku iba. Tiba-tiba pandanganku hilang, semua orang di hadapanku lama-lama terlihat buram.

"Hei, bujang! Bisa-bisanya kau tidur di tengah-tengah kerja,ckckck," ujar Pak Toba membangunkanku, aku melihat ke seberang jalan, kerumunan orang-orang tadi hilang. Pedagang asongan yang mengabarkanku tadi masih dengan pekerjaannya. "Hei, apa yang kau lamunkan? Lihatlah, apa yang kubawa! Ini...," belum selesai Pak Toba berbicara aku segera memeluknya. "Kenapa kau ini? Macam anak kecil saja peluk-peluk," teriaknya kepadaku, tapi aku malah memeluknya erat dan tidak memperdulikan kartu peserta cerdas cermat yang dipegangnya.

There are people lose their emotion, not because they dont have love, but they often lose their precious love

Jumat, 20 Juli 2012

Rujak Kehidupan

Wajar kalau semua wanita ingin diperlakukan seperti putri, karena dari kecil saja sudah diperlihatkan film-film seperti Cinderella, Snow White, dan sebagainya. Belum lagi ketika mereka dewasa banyak film-film Korea yang rata-rata menceritakan tentang seorang wanita yang biasa saja bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya raya. Pantas saja kebanyakan dari wanita menginginkan pasangan hidupnya itu sempurna, tetapi dunia itu tidak semulus atau sepolos yang kamu kira, wahai wanita!.

Kalau pun dalam kehidupan nyata itu seperti yang ada di film-film, maka sudah ada pangeran tampan dan kaya raya melamar saya, haha. Tetapi saya tahu bahwa orang yang berekonomi pas-pasan seperti saya akan menikah dengan orang biasa seperti saya. Soal paras, bohong kalau pria tidak suka dengan wanita cantik, begitu juga sebaliknya dengan wanita. Maka dari itu, tak jarang orang yang berparas pas-pasan seperti saya mendapat perlakuan dari pria yang hanya menutup mata dan membuka mata hanya dengan wanita cantik.

Dengan semua itu, jangan membuat diri kita sedih. Ingatlah! Paras yang bagus kalau tidak mempunyai kepribadian yang berkualitas sama saja seperti plastik kosong yang akan terlempar ketika tertiup angin. Begitu juga dengan harta, sama saja kaya raya kalau dirinya bodoh, hartanya akan habis dan tidak akan bertambah karena dia hanya tahu menghabiskan harta, tidak tahu cara mengelolanya atau menambahnya.

Memilih pasangan hidup tidak hanya melihat dari paras atau harta. Memang kalau sudah tua wajah pasanganmu akan tetap muda?, apakah hartamu tidak akan habis?. Boleh memilih pasangan hidup melihat pada parasnya, hartanya, tapi ingat jangan buta dengan kedua hal itu saja, ada yang lebih penting yaitu Agama. Seperti dalam hadis nabi bahwa pria menikahi wanita karna kecantikannya, hartanya, nasabnya, ilmunya, dan terakhir adalah agamanya. Kenapa agama disebutkan terakhir?, karena itu yang paling utama.

Sering saya dengar kalau ada orang yang ingin dicarikan jodoh yang seperti ini, itu, banyak syaratnya, tapi dia tidak berusaha menambah kualitas dirinya. Kita tak akan pernah menemukan orang yang cocok, entah itu teman, saudara, bahkan pasangan hidup, tetapi berusahalah mencocokan diri kepada orang-orang tersebut. Kenapa? Karena manusia tidak ada yang sempurna. Berbeda dengan Allah, Allah itu sempurna, maka dari itu Ia selalu menerima kekurangan-kekurangan (kesalahan) hamba-Nya.

Jangan terlalu menyibukkan diri mencari yang sempurna, tapi berusahalah menambah kualitas diri kita baik kepada Allah atau kepada hamba-hamba-Nya. Sayangilah orang-orang sekitarmu, jangan biarkan kekurangan mereka membuatmu tidak menyayangi mereka. Hidup ini, jalani saja, jangan terlalu sedih bila kita disakiti orang lain, karena kita juga sering menyakiti orang.

Gubuk yang Menyimpan Rahasia

Entahlah namanya siapa, yang jelas para penduduk sekitar memanggilnya 'Emak', suaminya biasa dipanggil dengan Pak Tono. Pasangan suami-istri ini tinggal di sebuah gubuk kecil pinggir jalan besar Kecamatan Rawasikut, Karawang. Gubuk mereka dibatasi dengan pagar dari bambu agar membatasi tanah mereka dengan sawah-sawah di sekelilingnya. Karawang dikenal sebagai kota Agraris, makanya banyak sawah-sawah yang menghiasi sepanjang jalan menuju desa-desa. Akan tetapi itu dulu, sekarang banyak sawah-sawah yang dibeli pengusaha-pengusaha dari Jakarta yang lalu dijadikan pabrik, perumahan membuat kota Karawang tidak seasri dulu.

Aku dan keluargaku bertetangga dengan emak, hanya sepetak sawah kecil yang memisahkan antara rumah kita. Rumahku berbentuk Rumah-Toko yang sering disebut 'Ruko', ketika siang hari toko ramai oleh pelanggan karna kebetulan juga ada bengkel motor di toko dan letaknya di pinggir jalan jadi banyak yang mampir ke sana. Pak Tono berprofesi sebagai petani, ia bekerja di sawah milik pengusaha Jakarta, karena Pak Tono tak mempunyai sawah jadinya ia harus bekerja di sawah orang lain. Sedangkan emak kesehariaannya mengurusi kebun kecil yang ada di belakang gubuknya yang dibatasi dengan pagar bambu.

Keluargaku sering memberi makanan yang ada di toko, atau bahan pokok, karena sepasang suami-istri tersebut hanya bertumpu pada penghasilan sang suami. Pak Tono biasanya sering mampir ke toko selesai ia bekerja. Biasanya ketika aku pulang dari rumah kakek dan saudara-saudaraku yang berada di desa tepat di belakang sawah tokoku, emak memanggilku dan menawarkanku segelas teh dan pisang goreng, "Sok atuh[1] neng geulis[2] dimakan pisang gorengnya, nanti keburu dingin," ujar emak kepadaku. Umur emak sekitar 50 lebih hampir 60, tapi masih kuat untuk mengurusi kebun, bersih-bersih dan sebagainya.

Tetanggaku yang satu ini memang baik, berbeda dengan tetangga depan toko yang terletak di seberang jalan. Ada saja ulah mereka yang membuat keluargaku kesal. Ya mungkin sifat orang berbeda-beda, biarlah mereka tak suka terhadap kita, asalkan kita jangan membalas dengan hal yang serupa.

                                                                                ***
Tak terasa sudah seminggu di Karawang, aku dan keluargaku harus balik ke Jakarta, karena tempat tinggal asli kami berada di Jakarta. Jadinya yang mengurusi toko selama ini Mamang[3] dan Bibiku, dan biasanya mengunjungi toko kalau hari libur sekolah karena orang tuaku guru. Sebelum meluncur ke Jakarta kami berpamitan kepada Pak Tono dan emak, Ya Allah limpahkanlah rizki-Mu kepada pasangan suami-istri ini, batinku.

                                                                                  ***
Pagi-pagi buta, bibiku menelpon ibu dari Karawang, "Teteh[4], toko kecurian tadi malem...," begitulah sekilas yang aku dengar dari percakapan bibi ditelpon. Kebetulan hari ini libur, kami sekeluarga langsung meluncur ke Karawang. Setibanya kami disana, bibi dan mamangku terduduk lemas. Semua makanan di toko habis, barang-barang dapur ludes.

"Pencurinya ketahuan pas udah ngambil barang, terus lari ke belakang kebon si emak, eh nyampe situ teh pencurinya udah ilang," ujar bibiku. Tapi masa Pak Tono dan emak yang mencuri?, tidak mungkin!, lagipula mereka sudah tua dan tak mungkin segesit itu. Ibuku pucat pasi melihat semuanya hilang begitu saja, "Sudahlah, mungkin bukan rejeki kita," ucap Ayahku menenangkan Ibu.

Seminggu kemudian tetangga depan toko, melakukan perbaikan klinik, karena memang sang suami berprofesi sebagai dokter. Tidak hanya klinik saja, rumahnya pun dicat ulang, dirapihkan dan sebagainya. Mungkin rejeki orang berbeda-beda, ada yang sedang menyurut dan ada yang sedang naik, gumamku dalam hati mencoba ber-husnudzon. Kami pun sudah mulai melupakan kejadian pencurian itu, mahu melapor ke polisi sama saja karena kami tak mempunyai bukti yang kuat.

Ada keganjalan pasca kejadian tersebut, Pak Tono sudah tak lagi mampir ke toko kami, dan emak sudah tak pernah menyapa kami ketika melewati rumahnya. Mungkin mereka sibuk, aku kembali mencoba ber-husnudzon. Tetapi husnudzon yang kubangun selama ini runtuh ketika Pak Maman yang merupakan orang pintar di desa kakekku mengabarkan suatu berita yang sangat membuat keluargaku terkejut. Rupanya Pak Maman tahu cerita kejadian seminggu yang lalu dari saudara-saudaraku.

"Yang mencuri itu memang tetangga depan rumah kalian...," kata Pak Maman, setelah terdiam beberapa detik lalu beliau melanjutkan lagi, "Ternyata setelah saya selidiki mereka memiliki algojo-algojo untuk mencuri dan menyembunyikannya di gubuk Pak Tono, makanya proses pencuriannya sangat cepat dan dapat mengambil banyak barang juga",

"Dan Dokter tetangga kalian itu adalah anaknya Pak Tono dan emak..."

[1] silahkan
[2] gadis cantik
[3] paman
[4] kakak perempuan


Sepenggal Episode untuk Marwa


Suara kendaraan umum bersahut-sahutan seperti menyuarakan kegelisahan atas kemacetan di tikungan Darosah[1], polusi seakan memenuhi seluruh ruang nafasku, tetapi ku tak peduli. Kugenggam botol air putih yang isinya tinggal setengah, jilbabku hampir basah karena aku terlalu semangat ketika melepaskan dahaga. Sengaja aku luapkan kekesalanku pada botol yang kugenggam, sedangkan seorang gadis Mesir yang menemaniku duduk di gerbang kuliah masih asik mengomentari semua yang terlihat aneh di matanya, termasuk aku.

“Ya Halimah, kalau di Mesir nikah segampang kayak di Indonesia sudah dari jauh hari aku menikah dengan Muhammad, seharusnya kamu tuh cepat menikah,” ujar Marwa sambil tangannya bergerak seperti kebanyakan orang Mesir berbicara, mulut bergerak dan tangan pun ikut mengekspresikan ucapannya. Kubiarkan saja Marwa berceloteh, aku seperti mendengarkan khutbah Jum’at yang bertemakan ‘Segera Menikah’. Sudah beradaptasi rupanya kupingku dengan ceramah segera menikah yang bersumber dari Marwa, teman satu fakultasku.

Mungkin karena sulitnya menikah di Mesir, dan mudahnya nikah di Indonesia makanya Marwa geram melihat diriku yang masih single ini. Di Mesir, jika seorang lelaki ingin menikahi seorang gadis, dia harus mempunyai flat beserta isinya, dan juga mempunyai penghasilan tetap. Berbeda di Indonesia, dengan seperangkat alat sholat saja sudah bisa mendapatkan kata ‘sah’ dari seorang penghulu kalau ijab-qabul sudah terlaksana.

Sudah lama Marwa ingin melaksanakan sunnah Rasul, tapi apa daya, hanya karena adat Mesir yang aneh ini menjadikan para lelaki harus bekerja keras terlebih dahulu. Marwa mempunyai tunangan bernama Muhammad, sekarang dia bekerja di Negara Qatar menjadi polisi. Memang dalam dunia militer dan pertahanan, Mesir pasti jagoannya. Maka tak jarang Mesir mengirimkan anggota militernya ke Negara-negara tetangga. Sudah setahun lebih Muhammad kerja disana, dan belum mendapatkan penghasilan yang bisa memenuhi syarat adat Mesir ini.

Setelah menghabiskan minuman, kami berjalan menuju terminal bus Darosah. Akhirnya kami berpisah setelah aku mendapatkan bus jurusan Zahro[2]. Marwa bertempat tinggal di Abud, jauh dari tempat tinggalku, tetapi masih termasuk daerah Cairo.

Macet, beginilah resiko pulang kuliah sore hari, bus delapan puluh coret[3] terlihat sesak dengan penumpang. Di tengah-tengah perjalanan aku melihat ada seorang ibu berumur sekitar 40-an ke atas menuntun dua anak laki-laki masuk ke dalam bus. Pandangan pertama ketika melihat ibu itu biasa saja, tapi setelah melihat kedua anaknya aku merasa kasihan. Dua anaknya mengalami keterbelakangan mental, terlihat dari bentuk wajah mereka.

Tak heran lagi mendapati seorang ibu mempunyai anak keterbelakangan mental atau bisu dan tuli, itu semua karena faktor kebanyakan wanita Mesir yang hamil di atas umur 40 tahun. Pastinya karena keterlambatan usia menikah, maka kebanyakan dari mereka yang hamil di atas 40 tahun. Yang aku pernah dengar, kalau hamil di atas 40 tahun itu beresiko cacat terhadap anak. Semuanya tidak akan seperti ini kalau tidak ada adat Mesir yang aneh itu, sebenarnya yang seperti itu tidak ada dalam Syariat Islam, karena Syariat Islam terkenal dengan ‘Adamul Haraj, yaitu meniadakan kesusahan.

Ala ganbak ya asto![4],” ujarku kepada supir bus. Akhirnya tiba juga di depan apartemenku, ketika aku ingin menaiki tangga aku melihat anak dari seorang bapak yang membersihkan apartemenku, kuberikan dua batang coklat kepadanya. Langsung dia berlari ke dalam flat yang disediakan untuk orang yang membersihkan apartemen ini. Aku dan teman-teman satu flat sering memberikan makanan dan pakaian kepada mereka. Flat mereka hanya sebesar kamarku saja, dan itu pun diisi dengan sepasang suami istri dan tiga anak. Upah mereka tidak sebanding dengan kerja mereka.

Ternyata tidak ada orang di dalam flatku. Rata-rata penghuni flatku ini semuanya masih S1, jadi masih sibuk-sibuknya dengan organisasi, yang S2 hanyalah aku dan satu temanku, kita semua berjumlah lima orang. Kuhempaskan badanku ke atas kasur dan lama-lama semua terlihat gelap.
                                                                                                ***
Eh besok abis makan-makan di Assalam, kita diundang ke rumahnya Marwa, jangan kemana-mana loh!,” kataku kepada semua teman se-flatku. Besok adalah hari raya Idul Adha, biasanya kalau hari raya Idul Adha dan Idul Fitri semua orang Indonesia sholat  id berjamaah di Masjid Assalam salah satu masjid di daerah Hay ‘Asyir, Nasr City. Sholat berjamaah berlangsung pada jam 8 pagi sesudah orang-orang Mesir sholat id, jadi terasa benar-benar di Indonesia, karena yang menjadi Imamnya orang Indonesia dan khutbahnya pun berbahasa Indonesia. Sesudah sholat semua orang Indonesia boleh mengambil makanan di stand-stand yang sudah disediakan oleh masing-masing kekeluargaan tepatnya di halaman Masjid Assalam.

Usai makan-makan di Masjid Assalam, kami berlima langsung menuju rumah Marwa. Setelah di terminal akhir, kami masih harus berjalan, karena rumah Marwa masih jauh dari tempat kami turun dari bus. Berbeda dengan Nasr City, di  Abud apartemen-apartemen terlihat sangat berdekatan jadi terlihat sesak. Mungkin karena Nasr City pemukiman yang kebanyakan dari penghuninya adalah pelajar, berbeda dengan kediaman Marwa, terlihat kumuh dan banyak gundukan-gundukan sampah yang dihinggapi lalat-lalat.

Flat Marwa berada di lantai 3, sesampainya disana kami disambut hangat, seperti sebelum-sebelumnya kedatangan kami di rumahnya. Memang setiap hari raya kami serumah diundang untuk makan sepuasnya di rumah  keluarga Marwa. Kalau kami tidak berkunjung ke rumahnya, mereka akan marah, dan marahnya orang Mesir bisa melebihi Fir’aun. Lebih parahnya kalau kami tak menghabiskan makanan yang disediakan, mereka juga marah!. Bayangkan saja setiap orang harus menghabiskan separuh ayam utuh, semangkuk daging, mahsyi[5], mulukhiyah[6], belum lagi ada kue pencuci mulutnya, bayangkan!.

Flat keluarga Marwa lebih kecil dari flat yang aku tempati bersama teman-temanku. Marwa tinggal bersama ibunya, dan empat orang adiknya. Marwa anak pertama dari lima bersaudara, kedua adik perempuannya berturut-turut bernama Hinda dan Nadha, serta si kembar Ahmad dan Mustofa.

Semua adik-adiknya tak ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, kecuali Marwa. Bukan karena keluarga mereka tak mampu membiayai, tapi karena mereka ingin langsung bekerja dan malas belajar. Padahal mereka adalah anak-anak yang cerdas, Marwa saja yang tidak pernah belajar tapi selalu mendapatkan nilai yang baik. Dulu setelah lulus S1, Marwa sempat berencana tidak akan melanjutkan ke jenjang S2, setahun dia bekerja di outlet sebuah mall, tapi akhirnya setelah dibujuk oleh tunangannya akhirnya dia kembali melanjutkan S2nya di Universitas Al-Azhar lagi bersamaku. Aku sempat pulang ke Indonesia setahun, maka dari itu kami berdua kembali sekelas seperti S1 dulu.

Tentang ayahnya?, beliau di penjara tepatnya di kota Alexandria. Awalnya ayahnya bekerja di perminyakan di Negara Qatar, di Negara yang sama dengan tunangannya. Beliau terkena tuduhan menganiaya teman sepekerjaannya, mereka bertengkar karena masalah kecil, tetapi karena emosi orang Mesir yang susah dikendalikan akhirnya Ayah Marwa memukul kepala temannya itu dengan kayu sebesar tangannya. Ayah Marwa dipenjara ketika Marwa berumur 13 tahun, di saat itu Marwa harus mengurus adik-adiknya sebagai anak pertama. Ibunya menjadi single parent yang menghidupi anak-anaknya dengan bekerja menjadi seorang koki di rumah orang terkaya se-Cairo. Tak heran kalau masakan ibunya lebih enak daripada masakan yang ada di restaurant-restaurant seluruh Cairo.
                                                                                                ***
Ringtone handphoneku membangunkan tidur siangku, aduh Marwa menelponku!, setengah sadar aku menjawab telepon darinya. “Ya Halimah, buka pintu! Aku udah di depan flatmu!,” seru Marwa, Kebiasaan orang Mesir kalau satu orang bicara seperti sepuluh orang. Ketika kubuka pintu Marwa langsung memelukku, Marwa menangis!. Aku mengajaknya masuk ke dalam kamarku dan kubiarkan dia meluapkan kesedihannya, baru setelah itu kutanyakan masalahnya.

Marwa bercerita, kalau ibunya menyuruhnya untuk menyudahi hubungan dengan tunangannya. Aku kaget, tapi kubiarkan dia bercerita lebih lanjut. Ceritanya sebelum Marwa dan Muhammad menikah mereka menabung untuk membeli flat beserta isinya, dan uang mereka ditabung di sebuah Bank di Cairo. Tetapi tiba-tiba ibunya Muhammad meminta agar keluarganya saja yang memegang uang tersebut, jelas saja ibu Marwa tidak setuju dan marah. Ibu Marwa takut kalau Marwa ditipu, takut kalau uangnya dibawa kabur dan Marwa ditinggalkan.

Aku bingung, aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena masalah mereka berkaitan dengan uang. Sulit juga kalau sudah berkaitan dengan uang, semua orang juga akan sensitif kalau berhubungan dengan uang. “Udah Halimah, kamu jangan ikutan pusing, kamu dengerin aja udah cukup kok,” ujar Marwa sambil berusaha tersenyum walau matanya masih mengeluarkan air mata. “Ma’alisy[7] ya Marwa, aku enggak bisa bantu apa-apa, ya mudah-mudahan kalau memang jodoh enggak bakal kemana kok, pasti sama Allah dibukain jalannya,” kataku sambil memeluknya. Ya Allah, semoga urusan Marwa bisa selesai dan Marwa bisa cepat menikah dengan Muhammad, amin!.
                                                                                                ***
Meski musim dingin sudah usai, tetapi masih menyisakan kesejukan untuk hari ini. Udara serasa sejuk sekali, daun-daun melambai ke kiri dan kanan seperti menari atas kebahagiaan seseorang. Tepat di hadapanku seorang gadis Mesir mengenakan gaun putih, cantik sekali. Senyum kebahagiaan tergambar jelas di raut wajahnya. Aku pun turut bahagia, akhirnya Marwa bisa melangsungkan pernikahan dengan Muhammad. “Inti gamilah awi ya Marwah, inti amourah giddan giddan[8]!,” seruku tanpa mengedipkan mataku, takjub atas kecantikannya. “Syukron ya Halimah, wa inti kaman[9],” jawabnya sambil tersenyum tersipu.

Ketika Marwa sudah siap dibawa ke tempat resepsi, aku keluar untuk bersalaman dengan ibunya dan… kau tahu siapa? Ayahnya Marwa!. Ayah Marwa sudah bebas dari penjara seminggu sebelum pernikahan Marwa, terlihat Ibu Marwa merangkul suaminya dengan hangat. Aku teringat Ibu Marwa pernah bercerita bahwasannya selama suaminya di penjara, ia tidak pernah datang menjenguk suaminya, karena sudah cinta mati dengan suaminya, ia takut tidak bisa merelakannya.

Akhirnya aku bisa melihat Marwa bersanding dengan Muhammad di panggung pelaminan, memang jodoh tak akan kemana. Walaupun adat Mesir yang menghambat, kalau sudah jodoh Allah pun akan melimpahkan rizki bagi hamba-Nya. Lalu ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, kapan giliranku?.





[1] Nama salah satu daerah di Cairo
[2] Nama salah satu pemukiman di Nasr City
[3] Nomer bus jurusan Darosah-Zahro
[4] Bahasa amiyah Mesir yang artinya, “Kiri bang!”
[5] Nama makanan Mesir berupa terong diambil isinya dan diganti dengan nasi yang sudah dibumbui, selain terong lapisan luarnya bisa berupa daun kola tau daun anggur.
[6] Nama jenis sayuran, dan cara penyuguhannya dihancurkan daun-daunnya lalu direbus dengan air kaldu, lalu disediakan dimangkuk atau di gelas yang biasa disebut masyrubah atau minuman mereka.
[7] Bahasa amiyah Mesir yang artinya “Maaf”.
[8] Bahasa amiyah Mesir yang artinya, “Kamu cantik sekali Marwa,anggun banget!”.
[9] “Terima kasih Halimah, kamu juga cantik”.