Pages

Labels

Rabu, 10 April 2013

Sketsa Pelangi untuk Dira (Episode 1)



*Chapter 1

Semilir angin yang berhembus dan suara ombak berasal dari Laut Mediterania berhasil menghiburku sejenak. Ah, rasanya ingin berlama-lama di kota yang indah ini, melepas segala kepenatan yang ada. Benar apa kata orang, kota Alexandria ini berhasil memikat hatiku secara spontan. Aku yang baru saja menginjakkan kaki di kota yang indah ini, seketika jatuh cinta kepada suasana kota ini, apalagi suasana di pinggir pantai Laut Mediterania ini.

Sudah empat bulan lebih aku berada di Negara seribu menara ini, ujian termin satu pun sudah berlalu. Sudahlah aku sedang tidak ingin mengingat tentang ujian atau apapun, karena aku sekarang sedang berlibur. Aku, Tyas, dan keluarga Pak Burhan sedang berlibur di Alexandria. Sisil, anak pertama Pak Burhan yang masih menduduki kelas satu Sekolah Dasar sedang berenang-renang di laut, lalu Indra sang adik yang masih berusia 5 tahun sedang bermain-main bersama Bik Asih, pembantu keluarga ini. Pak Burhan dan Bu Fatimah, istrinya bersiap-siap balik ke apartemen yang disewa untuk liburan kali ini.

“Dir, pulang yuk, udah sore nih! Bentar lagi maghrib loh!,” seru Tyas
Duluan deh yas, aku masih pengen disini. Nanti aku nyusul kok!,” ujarku kepadanya
Bener ya nyusul, nanti pas maghrib pokoknya kamu udah balik”.
Aku pun menganggukkan kepala dengan mata yang masih tertuju kepada laut.

Masih teringat ketika aku berpamitan kepada orang tuaku,  Ati-ati ya neng, jangan macem-macem di negri orang, kudu nurut sama Pak Burhan juga sama Bu Fatimah ya, jangan ngerepotin…,” pesan mama yang kalau direkam bisa ngalahin kultum-kultum yang ada di masjid daerah Ujung Menteng. “Ya udah, mama sama babeh juga kudu baek-baek ya di rumah, Dira pergi dulu, assalamualaikum,” ujarku sambil mencium tangan mama dan babeh.

Jika aku boleh meminta, aku ingin liburan kali ini diperpanjang. Disini aku bebas dari celotehan atau amarah dari ibu kompeni, yaitu Bu Fatimah. Bu Fatimah adalah istri Pak Burhan, dan Pak Burhan sendiri adalah teman baik babeh. Beliau seorang pengusaha minyak yang kaya raya di kota Kairo, beliau yang menawarkanku untuk tinggal bersama keluarganya di daerah Dokki yang masih dalam lingkup Kota Kairo. Beliau adalah sosok yang sangat baik dan dermawan, jarang-jarang ada orang kaya sebaiknya. Maka dari itu, aku mengajak Tyas yang merupakan teman seperjuanganku untuk tinggal bersama di apartemen Pak Burhan ketika tahu bahwa kami berdua sama-sama lulus tes masuk Universitas Al-Azhar.

Kenapa aku memanggil Bu Fatimah dengan sebutan kompeni? Kalau boleh aku jujur, dia benar-benar seperti kompeni!. Kau tahu? Aku dan Tyas dipekerjakan olehnya selama Bik Asih tidak bekerja, dari mulai membersihkan apartemen sampai mengasuh Indra. Bik Asih bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore, jadi dari jam 7 pagi sampai Bik Asih datang, kami disuruh membersihkan kamar mandi dan balkon. Ketika Bik Asih pulang, kamilah yang melanjutkan mengasuh Indra. Selama ini Pak Burhan tidak mengetahui hal ini, karena beliau berangkat ke kantor jam 6 pagi dan pulang lebih dari jam 10 malam.

“Sholaatu min Allah… wa alfa salam…,” ringtone handphoneku berteriak membuyarkan lamunanku, terlihat di layar kalau Tyas memanggilku. “Iya, ini lagi mau pulang yas,” ujarku sambil membersihkan rokku dari pasir-pasir pantai.

                                                                        ***

“Diraaa, baju ibu yang digantung di lemari kamu taruh dimana?,” seru Bu Fatimah
“Dira nggak ngutak-atik lemari ibu, kemaren cuma bersihin kasur sama ngepel lantai aja bu,” ujarku sedikit emosi
“Lalu, siapa lagi kalau gitu? Kemaren yang bersihin kamar ini kan kamu bukan si Asih, masa Indra? Kamu mau nuduh anak saya yang masih kecil?,” amarah Bu Fatimah semakin menjadi-jadi.

Aku langsung berlari ke kamar, aku terisak di bawah bantal. Tyas menghampiriku,
“Diirr, udah udah, tenangin hati kamu,”
“Aku udah nggak tahan lagi yas, seharusnya dia tuh nyadar! Tahu nggak sih dia, kalau kita masuk kuliahnya gantian sampai ujian pun kita bergantian hadir. Kita tuh disini mau belajar, bukan kerja!,” ujarku sesegukan
Udah-udah nggak usah diungkit-ungkit, mungkin dengan ini kita bisa balas jasa mereka yang udah ngasih kita tempat tinggal sama uang saku setiap bulan,” ujar Tyas.

Selalu begitu yang diucapkan Tyas, kalau boleh aku pun lebih memilih untuk tidak tinggal dengan mereka. Mungkin aku sudah pindah rumah kalau tidak ingat Pak Burhan adalah teman baik babeh. Aku juga takut jika mengadukan hal ini kepada Pak Burhan atau orang tuaku, bisa-bisa kedua pasangan suami-istri ini bertengkar gara-gara masalah ini.

Aku hanya geram saja, karena kami harus berangkat kuliah secara bergantian gara-gara mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Fatimah. Untungnya kami satu jurusan, jadi bisa saling melengkapi catatan. Belum lagi jarak dari apartemen ini ke kuliah, bisa satu jam lebih dan kami harus berangkat jam 7 pagi karena pelajaran dimulai pada jam 9 pagi. Sebenarnya Pak Burhan menawarkan antar-jemput untuk kami berdua, karena kebetulan akhir-akhir ini mobil yang biasa dipakai untuk mengantar istrinya berpergian tidak digunakan. Akan tetapi aku menolaknya, karena aku melihat gelagat dari Bu Fatimah bahwa ia tak suka kalau mobilnya dipakai oleh kami berdua.

Hal ini berkelanjutan sampai tiba saatnya ujian termin satu, Bu Fatimah tidak mempunyai toleransi rupanya. Dia tetap mempekerjakan kami selama ujian, walhasil kami pergi ujian secara bergantian, yaitu jika hari ini aku ujian maka Tyas bekerja dan sebaliknya.

                                                                        ***

Ternyata kejadian ini berlangsung sampai termin dua, aku dan Tyas masih kuliah dan ujian secara bergantian. Rasanya ingin kabur dari sini, tapi kabur kemana? kami tidak mempunyai kenalan sama sekali. Bagaimana bisa mempunyai kenalan, kuliah saja jarang, apalagi mengikuti organisasi yang ada di Masisir. Di sekeliling apartemen Pak Burhan pun jarang orang Indonesianya, mahu minta tolong kepada siapa?. Orang Indonesia yang kukenal hanya keluarga ini dan Tyas saja.

“Bik Asih, si kompeni kemana?,” tanyaku, Bik Asih pun tertawa mendengar sebutan ‘kompeni’ yang keluar dari mulutku. “Ibu lagi keluar arisan cah ayu, sudah sana kamu sama Tyas belajar aja, biar bibi yang beres-beres,” ujar Bik Asih, “Enggak apa-apa bi, ujiannya udah selesai kok, sini biar Dira yang cuci piring,” ucapku sambil mengedipkan mata kepada Bik Asih. Aku kasihan kepada Bik Asih, Bu Fatimah terlalu membebani banyak pekerjaan kepadanya, padahal sudah dibagi tugasnya denganku dan Tyas tetapi masih saja pekerjaan Bik Asih menumpuk.

Wajah Bik Asih sudah tak muda lagi, terdapat banyak kerutan disana-sini. Ini yang membuat aku dan Tyas tidak tega membiarkan Bik Asih bekerja sendirian. Dia merupakan TKW yang dikirim dari Indonesia, dia rela bekerja sampai ke luar negri demi membiayai sekolah anaknya, karena suaminya sudah meninggal.

“Gimana, kemaren ujiannya nduk?, bibi kasian sama kamu dan Tyas, ujiannya jadi bolong-bolong, juga nggak bisa belajar,” kata Bik Asih sambil mengelap piring yang sudah kucuci. “Yaaa doanya aja bi, moga Allah ngasih keajaiban, yaitu lulus ujian. Mungkin ini ujian menuju kesuksesan,” ujarku, “Amiiinn, bibi selalu berdoa buat Dira sama Tyas semoga bisa lulus”.

Sebenarnya aku bingung, kalau aku tidak lulus, bagaimana cara aku mengabarkannya kepada orang tuaku?. Tyas pun sama seperti diriku. Kami terhimpit oleh problematika dunia yang rumit. Mungkin ini ujian untuk mengetes kedewasaan kami.

                                                                        ***

                                                                       
“Diraaa! Pengumuman hasil ujian udah turun!, ayo cepetan ganti baju kita ke kuliah!,” seru Tyas mengejutanku yang sedang asik membaca novel kesukaanku. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, kedua telapak tanganku berkeringat dingin. Aku sangat takut jika aku tidak lulus.

Ketika aku memasuki gedung kuliah, etalase tempat dipajangnya pengumuman hasil ujian dipenuhi oleh para mahasiswi. Tyas memasuki kerumunan orang-orang yang ada di depan etalase, aku hanya mematung dan membiarkan Tyas yang mencari namaku. Belum selesai Tyas mencari nama-nama kami, telepon genggamku berbunyi, di layar muncul nomor telpon tetapi bukan nomor Mesir melainkan nomor dari Indonesia.

“Halo assalmualaikum, Dira ini mpok!,” seru mpok Hani, yang merupakan kakak kandungku yang pertama
“Oh, mpok Hani! Gimana kabarnya mpok? kok nomernya mpok ganti sih?,” tanyaku dengan menggebu-gebu
“Diirr…gini..babeh…babeh….,” suara mpok Hani terbata-bata dan tidak jelas
“Babeh kenape mpok?kenapa? baek-baek aja kan mpok?,” seruku dengan berusaha menenangkan diri
“Babeh…..”.


Bersambung….

Minggu, 10 Februari 2013

Baju vs Mama

Tadi siang, aku baru saja video call bersama orang tua. Lagi-lagi mama memperlihatkan baju yang baru dibelinya untukku, baju yang lagi nge-trend saat ini, yaitu batik kalong. Mama sudah tahu apa yang bakal terjadi, tentunya aku tidak akan memakai baju feminim itu. Bayangkan saja, wanita serabutan sepertiku harus memakai baju rumbai-rumbai seperti itu. "Nggak pede ma, makenya," ujarku, "Ya harus pede atuh, bagus itu kalau ade yang make". Speechless.

Akhir-akhir ini mama lebih dan extra membelikanku baju-baju, yang jelas baju yang lagi update. Gara-gara mama senang anaknya yang acak kadul ini sudah mau dandan dan berpakaian rapi. Memang dari dulu mama rajin membelikan pakaian untuk anak-anaknya, tapi kali ini lebih dari biasanya. Pasti jika ada orang yang dapat jatah membawakan barang titipan dari mama untukku, isinya satu tas kembung berisi baju.

Dulu, setiap dua hari sebelum lebaran mama selalu membuka-buka majalah fashion muslimah untuk kostum yang akan dipakai ketika sholat ied nanti. Pasti mama menanyakanku, "Mau dimodelin apa jilbabnya?", dan aku asal menunjuk ke salah satu model jilbab. Masalah baju? jangan salah, mama sudah membelikannya sebulan sebelum puasa, Dahsyat! Pada akhirnya, aku bangun kesiangan, karena terburu-buru model jilbab tidak berfashion. Parahnya, setelah bersalam-salaman selesai sholat ied, aku langsung mengganti baju baru dengan jeans belel dan kaos oblong. Lalu pesan bakso langganan dekat rumah nenek, kabur ke rumah bibi dan nongkrong di depan televisi menonton kartun favorit. Mama murka dan menyeretku untuk mengganti pakaian.

Setiap aku ingin pergi dengan teman-temanku, pasti aku harus bolak-balik mengganti pakaian. Sebelumnya aku memakai jilbab langsungan, kaos bersablon, dan celana jeans tak bermodel, plus sendal jepit kesayangan warna kuning nge-jreng. Aku mengira mama tidak melihatku, ternyata aku salah, "Ganti baju yang cakepan, masa nanti temen-temennya pada cakep, ade pake kaos begituan".

Juga ketika membereskan baju-baju di koper untuk balik ke pesantren, pasti diseleksi oleh mama. Baju-baju yang tidak boleh dibawa, ketika mama sedang tidak di rumah aku masukkan kembali ke koper. Lalu keesokkan harinya mama mengeluarkannya lagi. Akhirnya aku memohon untuk dibawa satu baju yang tidak lolos seleksi dan mama membolehkannya. Pada hari H keberangkatan, aku memasukkan lagi baju-baju yang dikeluarkan tanpa sepengetahuan mama. Ritual ini terjadi sampai aku berangkat ke Mesir.

Alhamdulillah sekarang aku sudah bisa berpakaian rapi, ya mungkin rapi untuk standar saya. Ada yang pernah menasehatiku, "Berpakaian rapi itu penting, menunjukkan kedewasaan kita, dan tentunya mencontohkan muslimah yang baik, nanti kalau tidak rapi orang-orang jadi enggan memakai jilbab dan menjadi muslimah". Akan tetapi bukan berarti aku mahu memakai baju kalong tersebut, hehe.

Selasa, 22 Januari 2013

Obat Hati

Entah mengapa aku sering stress akan hal-hal yang tidak penting. Hanya menyebabkan ketegangan otot di kepala ku semakin bertambah, padahal sudah disarankan dokter untuk merilekskan otak. Tidak bisa ku jelaskan apa yang terjadi dengan diriku, yang jelas nafsu makanku berkurang setiap hari yang mengakibatkan luka di lambungku. Badanku tinggal tulang dan sisa-sisa lemak yang kian menipis.

Selain kepala dan tubuhku yang meradang, ada organ lain yang merupakan sumber kekacauan dari semuanya, yaitu hati. Hatiku sering berkecamuk yang mengakibatkan stress berkepanjangan, mungkin karna aku sedang jauh dari Allah. Mungkin di umur-umur seperti ini aku mempunyai masalah hati, mungkin jika aku pengendali hati yang handal tidak mungkin akan terpuruk seperti ini.

Setiap manusia pasti mempunyai masalah, jadi aku tidak perlu merasa sok paling menderita di dunia ini. Masalah tidak akan berubah dengan air mata, mungkin karna kebanyakan masalah makanya hatiku lama-kelamaan menjadi bebal. Sebutan 'cuek' atau 'nggak peka' pun akhirnya menempel di diriku. Asal kalian tahu, aku sudah bosan menjadi wanita sensitif, jangan kira aku terlahir sebagai wanita berhati baja. Dulu aku lebih sensitif dari kulit bayi, sehari tidak menangis merupakan prestasi bagiku. Sekarang, dalam seminggu sekali saja aku mengeluarkan air mata merupakan prestasi untukku.

Aku sudah berlatih hidup mandiri, melatih hatiku untuk kuat menghadapi segala sesuatu sendirian. Jadi, ketika aku ditinggalkan oleh saudara-saudaraku atau sahabat-sahabatku bahkan orang tuaku, setidaknya aku mempunyai sedikit persiapan.

Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan apa masalah yang terjadi padaku saat ini disini, lebih baik ku tuliskan di hati, tempat yang paling aman. Ku simpan rapi sehingga hanya aku dan Allah yang tahu, syukur kalau aku melupakannya. Setidaknya jangan sampai aku lupa bahwa Allah maha penolong, berdoa kepada-Nya salah satu obat yang mujarab di saat sendu sedan ini.

"Ya latiif... ultuf bina fii ma nazal, innaka latiifu lam tazal, ultuf bina wa muslimin..."

Senin, 14 Januari 2013

Tempat Favorit



Aku jadi teringat, dulu ketika masih kecil aku mempunyai tempat-tempat favorit, bahkan sampai aku dewasa. Pertama, atap rumah tetangga, karena rumahnya tidak bertingkat jadinya aku bisa naik kesana melewati tembok di lantai 2 rumahku yang membatasi antara rumahku dengan sebelah. Terkadang aku mengajak kakakku atau saudaraku yang ketika itu sedang menginap di rumah kesana. Soalnya jika di malam hari kami dapat melihat lampu Indosiar dari atap yang paling atas dekat antenna rumah tetangga itu. Bercanda riang, tertawa-tawa, malah terkadang sambil bernyanyi.
 
Tempat kedua adalah genteng rumah sendiri, terletak di lantai dua. Harus melewati pagar yang membatasi antara teras lantai dua dan genteng tersebut. Karena tempatnya kecil maka tempat ini khusus untuk diriku sendiri. Sepulang sekolah jika tidak ada jadwal les atau mengaji, aku akan duduk disana sambil membawa buku tulis, menulis cerita sambil berkhayal kesana-kemari. Tempatnya teduh, karena terhalang oleh pohon jambu air punya ayah yang lebat.

Terkadang aku bernyanyi-nyanyi sambil memukul-mukul kaleng biskuit, sampa-sampai tetangga ada yang meneriakiku karena kebisingan yang ku perbuat. Malah ketika ada segerombolan ibu-ibu menggosip di depan rumah dan terdengar lagi menggosipi ibuku yang sedang mengajar, aku akan memukul kaleng dengan kencang dan kumpulan arisan itu bubar.

Tempat ketiga adalah sungai kecil dekat sawah di rumah nenekku di Karawang. Di sungai tersebut ada air terjun buatan, dan batu-batu sungai dekat aliran sana. Pertama-tama kami bermain air di sungai, selepas itu kami makan manga apel hasil kebun kami dan menangkap ikan hasil ternakkan kakek untuk makan siang. Karena aku sakit-sakitan dan tidak boleh bermain air, jadinya setiap sore aku dan sepupu-sepupuku main ke sungai tanpa sepengetahuan ibuku. Kami bermain air, setelah itu kami bermain perosotan di turunan dekat sungai menggunakan kardus lalu mendarat di tumpukan jerami yang sudah kami susun.

Setelah itu kami bermail mobil-mobilan di kotak terbuat dari kayu untuk buang air besar di empang dekat sana. Salah satu sepupuku yang laki-laki berteriak-teriak sebagai kernek mobil. Pada suatu hari aku tertangkap basah oleh ibuku, karena melihat pakaian kotorku yang basah sebelum kucuci diam-diam. Akhirnya aku dimarahi apalagi setelah itu aku terkena flu dan demam.

Waktu kecil aku sering sakit-sakitan, makanya aku tidak boleh main sembarangan, bermain air, pokoknya hanya dibolehkan bermain semacam Barbie, boneka, rumah-rumahan. Padahal aku lebih senang bermain petak umpet panas-panasan, bermain bulu tangkis, bola kasti, perang-perangan. Pernah suatu ketika aku sedang flu dan waktu itu memang jadwal kami berenang di komplek dekat sekolah ibu mengajar. Setiap minggu aku, kakakku, dan dua orang anak teman ibu di sekolah berangkat kesana. Karena sedang flu, maka aku tidak dibolehkan berenang dan sengaja tidak dibawakan baju renang. Lama-lama aku bosan dan akhirnya aku menyeburkan diri ke kolam dengan pakaian yang kukenakan. Sampai di sekolah ibu, aku dimarahi abis-abisan dan flunya bertambah parah.

Tempat ke empat, jemuran di pesantren, setiap sore aku sering kesana, bersama teman atau sendirian. Menikmati angin di sore hari dan melihat anak-anak bermain layangan di belakang pesantren. Terkadang sambil berkhayal atau bernyanyi tidak jelas. Atau aku dan temanku membuat ayunan disana, bergantian ada yang duduk di ayunan dan ada yang mendorong.

Tempat ke lima adalah tempat duduk bus di samping jendela, ketika aku di Kairo. Apalagi kalau sedang perjalanan di pagi hari atau sore. Aku suka menghirup angin sore, ada unsur-unsur yang membuat ketenangan di hati. Terkadang menurutku, tak penting tujuan yang penting adalah perjalanan, karena aku lebih suka menikmati suasana di perjalanan ketimbang sampai tujuan.

Pasti setiap orang mempunyai tempat-tempat favorit tersendiri. Meski sederhana, asal nyaman dan enak di hati, tempat tersebut akan menjadi tempat favorit kita. Apalagi untuk orang yang suka mencari imajinasi atau berkhayal, pasti mempunyai tempat favorit dan ciri khas tersendiri.

Minggu, 13 Januari 2013

Kisah Petualang si Bocah Pena




Jika diingat, kapan aku mulai menyukai menulis cerita, tepatnya semenjak ibuku membelikan majalah BOBO untuk diriku sewaktu masih sekolah dasar  dulu. Aku mulai menyukai membaca majalah anak-anak, komik, mulai dari aku baru bisa membaca. Dulu waktu semasih di TK (Taman Kanak-kanak) setiap ingin pergi terapi penyakit asmaku, aku selalu dijanjikan akan dibelikan komik di tempat jualan buku-buku loakan di Pasar Senen dekat rumah sakit Sumber Waras tempat aku terapi. Setiap pergi ke rumah saudara menggunakan kereta api, ataupun bus, aku pasti merengek minta dibelikan majalah anak-anak.
 
Aku paling senang rubrik di majalah BOBO, cerpen dan dongeng, apalagi ada cerita misteri, aku paling suka. Dari dulu aku sering ingin mengirim cerpen untuk majalah BOBO, tetapi karena kantor pos jauh dari rumahku dan ayah sibuk mengajar, jadinya cerpen-cerpenku ditumpuk di kamar. Ketika kelas 5 SD pada pelajaran Bahasa Indonesia diadakan lomba menulis drama di kelas, aku dapat juara lima, dan buat lima pemenang dramanya akan dimainkan di depan kelas. Aku menulis drama judulnya “Gadis si Penjual Korek Api”, akhirnya aku memilih pemainnya dari teman-teman kelasku sendiri. Drama tersebut, aku adaptasi dari dongengku yang sudah kutulis lama sebelum itu.

Karena ayahku baru membeli komputer dan printer untuk menulis tesisnya, aku berinisiatif untuk mengetikkan semua cerpen yang kusimpan, lalu aku print dan dibagi-bagikan ke teman sekelas. Jika mereka selesai membaca, kertas-kertasnya dikembalikan lagi kepadaku. Jadinya aku selalu membawa map isinya print-an cerpen-cerpenku. Sampai kelas-kelas yang lain turut membaca dan selalu menanyakan ada cerita terbaru atau tidak.

Ketika kelas 6 SD, aku terkadang menyumbangkan cerpenku di majalah dinding di gedung kelas 6. Jadi setiap gedung mempunyai majalah dinding masing-masing, ada yang terurus dan ada yang tidak, nah mading punya kelas 6 lumayan banyak yang antusias untuk menulis. Di kelas 6 ini aku kedapatan teman sebangku yang kebetulan temanku semenjak kelas 3 SD, kami berdua mempunyai hobi yang sama, suka mengkhayal dan nonton kartun.

Aku dan temanku mempunyai dua buku tulis wajib, yang satu untuk menulis cerita dan satunya lagi untuk menggambar tokoh kartun yang terbaru atau yang sudah lama. Jika selesai menggambar kami saling memamerkan, apalagi kalau salah satu dari kami belum bisa menaklukan untuk menggambar tokoh kartun terbaru, pasti yang sudah bisa akan bersorai-sorai penuh kemenangan. Kalau untuk menulis cerita, jika sudah selesai kami akan bertukar dan memberikan pendapat masing-masing.

Sampai aku masuk pesantren, aku masih mempunyai buku tulis wajib, tetapi untuk menulis cerita saja, karena di pesantren jarang menonton kartun jadinya tidak pernah menggambar lagi. Jika lagi malas mendengarkan pelajaran, aku selalu menulis cerita, bahkan pernah aku menulis satu buku tulis penuh seperti menulis novel menggunakan tulisan tangan. Setiap selesai membuat satu bab cerita, teman-temanku membaca, lalu memintaku melanjutkan ceritanya. 

Pernah suatu ketika teman sekelasku mencoba-coba menulis cerita sepertiku, jadinya dia sering melihatkan ceritanya kepadaku. Aku pernah bercerita kepadanya tentang ide cerita yang ingin kutulis, belum selesai aku menulis, dia menulis cerita sama persis dengan yang ku omongkan kepadanya. Orang-orang banyak yang tertarik, karena aku kesal akhirnya aku tak pernah lagi menulis cerita. Jadinya, temanku yang populer menulis cerita pada saat itu.

Ketika aku kelas 4 di pondok, aku jadi pengurus majalah dinding, disitulah aku mulai berkarya kembali. Sampai kelas 5 aku masih menjadi pengurus mading, baik di pramuka atau OSWAH (Organisasi Santriwati Al-Mawaddah). Pada awal kelas 5 ada tes masuk buletin punya santriwati. Aku sudah menyiapkan cerita untuk kutuliskan ketika tes nanti, tetapi aku tidak diterima, yang diterima kebanyakan yang dekat dengan kakak kelas. Begitulah sistematis di pesantren, menjadi cantik atau mengandalkan supel dan dekat dengan kakak kelas, pasti bakal dipilih dimana-mana. Sampai ketika aku kelas 6 di pesantren, hanya segelintir orang yang dipanggil khusus untuk di tes masuk buletin, hanya orang-orang yang dikenal dengan krunya saja.

Setelah lulus dari pesantren, lama sekali aku tidak menulis sampai akhirnya aku masuk buletin La Tansa milik IKPM, aku baru menawarkan diri untuk menulis cerpen. Setelah itu aku masuk ke buletin Informatika. Dari sana aku mengembangkan dunia tulis-menulisku, hingga kini. Semoga kelak aku bisa menjadi penulis hebat seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dan sebagainya. Selamat menulis!

Musuh Terbesar Hati



 Ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk pergi ke pasar, bukan karena bahan-bahan makanan di kulkas sudah menipis, bukan juga anakku yang masih kecil merengek minta dibelikan sesuatu, pasti ada yang lain. Aku tidak tahu, tepatnya bingung. Sudahlah, mungkin sudah seharusnya aku me-refresh otakku yang baru saja lembur selama seminggu lebih untuk menggarap novel keduaku yang lusa akan dikirim ke penerbit. Setelah melepas kepergian suamiku mengajar dan mengecek anakku yang masih tertidur, aku pergi.
 
Seperti biasa, angin di kota Bandung memang selalu sejuk, terlebih pagi-pagi seperti ini. Sudah tiga tahun aku menetap di Bandung bersama suamiku, kami pindah kesini karena suamiku kedapatan kerja di kota ini. Ketika tiba di pasar, aku yang kebingungan mau beli apa, ah beli cemilan buat anakku saja. Selesai ku membayar, aku menangkap sesosok yang tidak asing dalam ingatanku, aku hafal betul siluet tubuhnya, tidak sampai 10 detik aku berusaha mengingat sosok tersebut. 

Dia berjalan menuju arah dimana aku berjalan menujunya, ketika ingin membalikkan badan tak sengaja bola mata kita beradu, aku tertangkap basah! Aku gegalagapan, ingin kabur tetapi terlanjur semuanya begini, aku lupa kalau sedang berada di kota kelahirannya. Tunggu, berarti tiga tahun aku berada di kota yang sama dengannya, sia-sia bertahun-tahun aku berusaha menghindarinya. Dia juga nampak terkejut, terlihat dari air mukanya.

“Hai,” sapanya.

“Hai juga, kamu apa kabar?” tanyaku seringan mungkin.

“Tidak baik, kamu?”

Jawabannya membuat hatiku tersentil, “Aku baik, kamu tinggal dekat sini?”

“Tinggal naik angkutan sekali, bagaimana kabar suamimu?” tanyanya canggung.

“Baik, aku duluan ya, sam…,” belum selesai ku berbicara, “Bisa minta waktunya sebentar?”

Akhirnya kami berjalan menuju café minuman di sekitar sini. Aku mengamati tubuhnya yang kurus, seperti biasa karena terlalu banyak mengkonsumsi rokok, penampilannya yang masih berantakan, tunggu, jangan-jangan…

“Kamu mau pesan apa?” tanyanya.

“Orange jus”.
 
“Mas, pesan satu kopi hitam dan satu orange jus”.

Minuman pesanannya pun tak berubah, masih sama, semua masih sama sejak pertama aku pertama kali mengenalnya. Dia tersenyum kepadaku, mendadak kepalaku pusing melihat senyuman itu. 

“Lama ya kita nggak ketemu,” ujarnya.

Aku pun hanya tersenyum.

“Kamu masih seperti yang dulu, malah tambah cantik, beruntung suamimu”.

Pernyataan yang menohok hatiku, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum.

“Suamimu kerja apa?”.

“Dosen di UNPAD, kamu sendiri lagi sibuk apa?” tanyaku mulai membuka mulut.

“Aku sekarang jadi penulis di salah satu surat kabar disini, terus sekarang lagi mau nyoba ke penerbit buat novelku yang baru selesai, ya biasa lah namanya jadi bujangan jadi nyari duitnya sesuka hati, nggak perlu nyari yang gajinya banyak”. Kata-kata terakhirnya berhasil menusuk hatiku sampai menembus dada, air ludahku terasa pahit. Benar dugaanku, dia belum menikah sampai saat ini.

“Oh ya selamat ya, akhirnya kamu berhasil jadi penulis, seperti biasa, cerita-ceritamu membuat saya selalu terkesan,” katanya lagi.

Aku tidak sanggup berkata-kata, sedikit saja mulutku berbicara air mata akan tumpah, pandanganku mulai mengabur. Seketika keheningan menyergap kami berdua, semuanya sibuk dengan hati masing-masing yang berkecamuk. Sibuk menata hati masing-masing, sibuk dengan kenangan-kenangan masa lalu. 

“Maafkan aku Gilang,” kataku lirih, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Saya disini bukan untuk mendengar kata maaf darimu, Putri, kata-kata itu sudah tidak berguna, tidak akan menyembuhkan luka saya”.
 
“Aku cuma bisa minta maaf, aku nggak tahu harus berbuat apa-apa, semua terjadi begitu saja”.

“Begitu saja? Iya begitu saja kamu meninggalkanku dan memilih orang yang lebih mapan,” ujarnya dengan suara yang mulai meninggi.

“Aku capek Gilang, kamu selalu menghilang, aku selalu mencari kamu, kamu nggak pernah nyadar! Kamu baru sadar ketika aku sudah diambil orang lain. Aku lelah harus menangisimu setiap hari, mengikuti kehidupanmu yang tak berarah, sering membuat janji tapi dilupakan begitu saja, aku sudah lelah menunggumu, Gilang,” ujarku menggebu-gebu. Akhirnya, keluar juga apa yang sudah kusimpan selama lima tahun lebih.

“Aku butuh waktu untuk menyatakan perasaanku kepadamu, seharusnya kamu bilang kalau kamu butuh aku, ingatkan aku terhadap janji-janji itu”.

“Kapan aku nggak ngingetin kamu? Sudah berapa kali aku SMS kamu, jika kamu menghilang aku yang panik, nanya sama temen-temen kamu, memang kamu pernah peduli kalau aku yang menghilang. Baru ketika ada lelaki lain mendekatiku, kamu menunjukkan bahwa aku itu milikmu. Sampai kapan aku menunggu kejelasan darimu? Lima tahun lagi? Sepuluh? Aku keburu tua”.

Keadaan semakin memburuk, masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Minuman yang kami pesan tidak ada yang menyentuh, semua utuh. Udara di sekitar semakin terasa tidak enak.

“Tetapi kamu menikahi Andre karena dia lebih mapan kan? Sedangkan aku hanya penulis yang mempunyai gaji kecil, aku tahu bahwa pekerjaan penulis terutama untuk lelaki susah diterima oleh mertua. Ya inilah realitas, realitas memang selalu bermusuhan dengan hati, dia hanya bersekongkol dengan logika bukan perasaan”.

“Kamu salah! Aku mencintai Andre, bukan mencintai hartanya. Dia yang mengisi kekosonganku di saat kamu pergi menghilang, dia tidak pernah membuat janji, tetapi dia membuatku yakin bahwa aku akan bahagia bersamanya”.

“Ya Andre memang sempurna. Mapan, masa depan jelas, hidupnya teratur, tidak perokok! Ternyata bertahun-tahun kamu mengenalku, kamu belum bisa menerima aku apa adanya,” ujarnya ketus.

“Kamu yang tidak mengenalku! Seharusnya kamu mengerti, aku mempunyai masalah dengan pernafasan, kalau kamu mencintaiku pasti kamu meninggalkan rokok. Aku bukan tidak menerima profesimu sebagai penulis, aku paham betul Gilang, aku juga seorang penulis, tetapi kamu selalu menggantungkan aku,” balasku dengan sinis.

Dari dulu aku selalu tahu bahwa kamu mencintai aku Gilang. Puisi-puisi yang dibuat olehmu aku pun tahu itu untuk diriku, tidak ada yang tak ku ketahui tentangmu, batinku. Terlihat emosi yang berlebihan dari dirinya, dia meremas kertas menu yang ada disampingnya.

“Cepatlah kamu mencari perempuan untuk menemani hidupmu, tidak baik terlalu lama membujang,” ujarku setelah menenangkan diri.

“Sosokmu terlalu sulit untuk digantikan”.

“Jangan terlalu naif, semua sudah digariskan, jangan melawan takdir tuhan”.

“Aku tidak melawan takdir, aku hanya sulit melupakanmu”.

“Aku saja bisa, kenapa kamu tidak bisa?.

“Itulah bedanya aku denganmu,” ucapnya sinis.

“Karena kamu selalu tidak mau berusaha, jangan seperti anak kecil, ini hidup Gilang. Jangan seperti orang-orang yang tidak menikah karena sulit melupakan cinta pertamanya, mereka yang lebih mencintai makhluk ciptaan-Nya ketimbang penciptanya sendiri. Kamu jangan sampai lupa diri, jangan sampai hati yang mengendalikanmu, akan tetapi kamu yang mengendalikannya”.

Gilang pun terdiam mendengar kata-kata terakhirku, semoga cukup menyadarkan dia. Akhirnya kami berpisah, dalam perjalanan menuju tempat menunggu angkutan, kami membisu, sibuk dengan perasaan masing-masing. Sampai di rumah anakku, Salsa memelukku.

“Bunda, abis darimana aja, aku takut sendirian,” ujarnya merajuk.

“Bunda beli makanan sebentar ke pasar buat kamu, maaf ya sayang, kita makan yuk”.

                                                                       ***

Sebulan kemudian…

“Ting tong!” bel rumah berbunyi, pak pos mengantarkan sebuah surat undangan berwarna merah jambu berukuran sedang, disana tertulis untukku dan Andre. Tertera di sudut surat ada dua buah nama yang satunya tidak asing. Ya, sebuah nama yang pemiliknya aku temui sebulan yang lalu.

Minggu, 18 November 2012

Bahasa Nusantara Terjajah



Sebulan yang lalu, baru saja masyarakat Indonesia merayakan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik dilahirkannya bangsa Indonesia, maka sudah seharusnya sebagai bangsa Indonesia merayakan momentum yang berharga ini. Cobalah sejenak kita mengingat apa saja tiga point di dalam teks sumpah pemuda.

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saya membayangkan bagaimana Sugondo Djojopuspito ketika itu melafalkannya, pasti dengan suara lantang, ditambah sorot mata yang menggambarkan masa depan yang cerah.  Para pemuda ketika itu bertekad akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dari kolonialisme. Sekarang perhatikan sejenak pada tulisan teks sumpah pemuda yang dituliskan oleh Moehammad Yamin. Semua kalimatnya dituliskan dengan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD (ejaan yang sudah dibenarkan), jelas, tentunya bisa dibaca dengan mudah.

Coba bayangkan, bagaimana teks sumpah pemuda ditulis dengan bahasa gaul masa kini atau sering disebut ‘Bahasa Alay’, yang pasti akan sulit dibaca. Selain itu, merusak penjiwaan kita terhadap sejarah sumpah pemuda. Ketika para pemuda membacakan teks sumpah pemuda dengan lantang artinya mereka bangga dengan bangsanya dan juga bahasanya, yaitu bahasa Indonesia. Tentu saja bahasa alay merusak bahasa Indonesia yang merupakan salah satu kekayaan bangsa ini.

Maraknya bahasa alay merupakan salah satu fenomena yang terjadi di kalangan anak muda saat ini. Bahasa alay digunakan mulai dari SMS, chatting, facebook, twitter, blackberry messenger, dan sebagainya. Contohnya seperti, ciyusan, miapah, atau hurufnya yang gede-kecil. Misalkan untuk huruf A saja bisa diubah menjadi @ atau angka 4, jadi terlihat seperti sandi, tetapi kalau sandi atau kode ada nilai sejarahnya, lain lagi dengan 
bahasa alay sama sekali tidak ada sejarahnya.

Saya pernah bertanya kepada salah satu teman, bagaimana bisa mereka bisa menulis huruf gede-kecil ditambah dengan huruf yang diganti dengan angka dalam setiap status facebook atau SMS. Jawabannya cukup mengejutkan, karena ada handphone yang memang sudah disetting untuk bahasa alay, tinggal pilih mahu hurufnya gedel-kecil berurutan atau selang-seling. Saya saja pernah mencoba mengetikkan bahasa alay pada handphone dan memakan waktu yang sangat lama, wajar saja saya heran kenapa mereka bisa menggunakan bahasa alay dalam status facebook berkali-kali dalam sehari.

Bahasa Indonesia ada karena melalui peradaban yang memakan jangka waktu panjang, tidak punah karena dia kuat. Lain lagi dengan bahasa alay, semakin hari maka semakin ada yang ter-update, yang sudah lewat hilang begitu saja diganti yang baru, karena dia tidak kuat atau dia tidak melewati suatu peradaban. Bahasa Indonesia juga disebut salah satu kekayaan budaya bangsa kita, jika salah satu kebudayaan kita dirusak, mahu jadi apa bangsa ini?

Negara yang maju terlihat dari para pemuda bangsa tersebut, jika para pemudanya berkualitas maka negara tersebut akan mengalami kejayaan, karena merekalah yang akan membangun negaranya. Akan tetapi, bisa dibayangkan jika para pemudanya saja sibuk update status facebook, atau twitter apalagi dibudayakannya bahasa alay, bagaimana bangsa ini ingin maju?. Takut dibilang temannya tidak gaul kalau tidak memakai bahasa alay, memangnya negara akan maju jika penduduknya gaul? Apakah gaul itu membuat dirinya menjadi sukses?

Saya pernah membaca bahwa tulisan seseorang mencerminkan kepribadian dirinya, jika tulisannya saja menggunakan bahasa alay, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kepribadian orang tersebut. Jika semua generasi muda menggunakan bahasa alay, saya takut dengan musnahnya penulis-penulis muda, karena tidak mungkin misalnya mereka menulis novel dengan bahasa alay. Pastinya, tidak ada satu pun penerbit yang akan menerbitkan novel tersebut, lagi pula siapa yang rela mengedit naskah dengan bahasa alay?

Generasi muda saat ini semakin dirasuki oleh budaya luar, rela menabung demi menonton konser boyband asal korea, karaokean, dan sebagainya. Selalu mengejar-ngejar apa update-an terbaru, seperti bahasa ciyusan, miapah yang sedang booming kali ini, saya sering menemukan di facebook atau twitter, sampai-sampai iklan di salah satu stasiun televisi turut berciyusan dan miapah.

Saya yakin bahasa seperti itu akan musnah seiring berjalannya waktu, pasti ada saja update-an terbaru. Seperti yang saya katakan, karena bahasa ciyusan miapah tidak kuat, tidak memiliki nilai sejarah dan melewati suatu peradaban. Saya heran, kenapa mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia secara benar, saya kira tidak sulit untuk menuliskan dengan bahasa yang benar, tidak memakan waktu yang banyak. Lagi pula sebagai pelajar pasti setiap harinya menulis dengan bahasa yang benar, tidak mungkin kita menulis pelajaran dengan bahasa alay.

Ingin saya bertanya, apa maksud mereka menggunakan bahasa ciyusan, miapah, mungkin ingin dibilang imut atau manja. Seperti kata Darwis Tere-Liye, kalau hanya sekedar menjadi imut atau unyu-unyu boneka juga punya sifat otentik seperti itu. Saya paling risih jika ada nama user facebook menggunakan bahasa alay, biasanya jika ada permintaan pertemanan oleh orang-orang bernama alay, tidak saya confirm.

Sebagai generasi muda, banggalah dengan Negara kita, bangsa kita, terutama bahasa kita. Jangan sampai bahasa kita terjajah, sudah cukup bahasa kita terjajah oleh para kolonial terdahulu. Jadilah kepribadian yang bagus, dewasa, dengan menggunakan tulisan yang benar. Pesan saya, bahwa menulis dengan bahasa yang benar itu tidak susah, tidak membuat anda merugi.