Pages

Labels

Rabu, 07 Maret 2012

Djamil, sang pahlawan dari Senegal

Tidak ada yang istimewa dari seorang anak lelaki bernama Djamil. Ya Djamil, dia baru saja berumur sekitar 10 tahun, berkebangsaan Senegal. Pada umur yang masih belia itu dia sudah menghafal Al-Quran. Dia mengikuti perlombaan Hifzul Quran Internasional pada bulan Ramdhan kemarin di Mesir. Banyak memang yang sudah menghafal Quran di usianya, tapi yang membuatnya istimewa adalah kegigihan dari seorang Djamil.

Dia berangkat ke Mesir sebagai utusan dari Senegal, sebelum berangkat dia mendapat pesan dari Guru yang membimbingnya selama ini, “Kamu akan pergi ke Mesir untuk mewakili Senegal dan seluruh benua Afrika, tapi jangan takut, karena semua orang Arab maupun non Arab mereka menghafal Al-Quran yang sama, dan kamu sudah menghafalnya”. “ Ketika kamu pergi ke Mesir di luar sana terjadi banyak kekacauan, tapi kalau semua Muslim menghafal Quran, kedamaian akan muncul, semua jawaban permasalahan di muka bumi ini ada di Al-Quran”, pesan singkat tapi sangat bermakna dalam dari sang Guru. Bayangkan saja anak sekecil itu sudah diajak untuk berbicara hal yang rumit seperti itu.

Hanya berbekal dengan keberanian dan doa dari orang tua, Djamil pun berangkat ke Mesir seorang diri. Para peserta lomba yang lain didampingi oleh orang tua masing-masing bahkan ada sampai sekeluarga yang mendampinginya, tapi Djamil hanya seorang diri, di usia yang sekecil itu dia harus pergi ke Negri orang tanpa didampingi orang tuanya.

Babak penyisihan berlangsung sampai 3 hari dan 3 malam, para peserta terbagi ke berbagai kategori sesuai dengan hafalan mereka.  Sebelum perlombaan, Djamil mencoba menelpon orang tuanya, tapi sayang koneksinya sedang tidak bagus dan ibunya tidak bisa mendengar suara Djamil. Dia sedih sekali karena tidak bisa menghubungi orang tuanya. Berbeda dengan yang lain, mereka didampingi oleh orang tua mereka masing-masing. Pikiran Djamil menjadi campur aduk, selain takut pada perlombaan dan juga karena rindu kepada orang tuanya.

Ketika namanya dipanggil, Djamil duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Soal yang dilontarkan oleh penguji adalah bagian yang banyak muncul di Al-Quran, dan Djamil mulai bingung lalu dia mengucapkan jawaban yang salah. “Ulangi dari pertama”, perintah sang penguji, tapi sayangnya Djamil tidak paham bahasa Arab, walhasil dia terus mengucapkan jawaban yang salah. Dia membaca Al-Quran sambil meneteskan air mata di depan para penguji dan akhirnya salah satu penguji berkata , “Cukup…cukup”.

Penilaian dari penguji langsung pada saat itu juga dan Djamil mendapatkan hasil yang paling rendah, yaitu 22,4 dari nilai 100. Dia menangis di atas bangku peserta sambil memeluk Al-Quran. Karena tersentuh oleh kegigihan Djamil salah satu penguji bernama Judge Sha’aysha memberi penghargaan kepada Djamil untuk membaca Al-Quran di salah satu Masjid terbesar di Cairo selepas sholat berjamaah. Semua yang berada di Masjid tersentuh oleh suara merdu seorang Djamil. Ketika selesai membaca Quran, semua orang menciumi Djamil dan banyak yang minta berfoto dengannya. Walaupun tidak bisa masuk final, tapi dia bangga bisa mendapatkan penghargaan tersebut.

Karena Djamil tidak memasuki final, dia pulang kembali ke Senegal. Semua keluarganya menanyakannya, “Emang kamu salah berapa kali?”, Tanya ayahnya, Djamil hanya tersenyum sambil meneguk susu miliknya. “Dengar semuanya, apa yang sudah dilakukan Djamil, pergi dari Senegal menuju Mesir , bagi semua yang menghafal Quran bisa pergi ke Mesir, maka dari itu kalian semuanya harus menghafal Quran jika ingin pergi ke Mesir”, ujar ayah Djamil. Djamil pun tersenyum bangga dan adik-adiknya pun kelak ingin pergi ke Mesir seperti Djamil.

Beberapa peserta juga ada yang mengesankan, ada Nabiollah si suara malaikat dari Tajikistan dan ada Rifdha sang jenius dari Maldive, tapi menurut si penulis Djamil lah yang paling berkesan. Kegigihan, ketegaran, dan keberanian seorang Djamil yang membuatnya berani meninggalkan Senegal menuju Mesir dengan seorang diri. Dan sekarang Djamil sudah menyempurnakan hafalan Qurannya dan berharap bisa menjadi imam tetap di Masjid daerah setempat seperti ayahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar